Epilog : Happy for you
Sebulan berlalu pasca pemulihan dirinya, ternyata selama ini ia koma selama 3 bulan karna kecelakaan, katanya ia tertabak oleh mobil karena tidak fokus saat menyebrang jalan. Para saksi setempat bilang kalo saat itu dina sedang bermain hp, lalu ia tertabrak oleh sebuah mobil. 'Aneh' padahal dina yakin sebab ia tertabrak karna ia terlalu fokus dengan luka yang ada di tubuh dan juga hatinya. Dina masih mengingat kejadian-kejadian itu. Belum selesai dengan kebingungannya, ia makin dibuat bingung dengan ingatannya, kini masa depannya telah berubah, tapi ia masih mengingat tentang Deric dan juga lukanya, walaupun ia sudah tidak merasakan sakit di hatinya, itu terasa seperti menonton serial tv, sakitnya hanya selewat. Ia sangat bingung, apa tujuan tuhan dengan tidak merenggut pula semua ingatannya tentang Deric dan masa lalunya, tentu ia tidak keberatan, tetapi ia hanya bingung.
Hari ini dina sudah diperbolehkan untuk pulang, ternyata dina adalah dokter gigi yang praktek di rumah sakit tempat ia dirawat, pantas saja saat itu para suster mengenalinya dan juga memanggilnya dengan sebutan 'dokter', itu karna mereka mengenal dina sebagai dokter spesialis gigi di rumah sakit tersebut. Dina tidak percaya, ternyata cita-citanya bisa terwujud, 10 tahun ini ternyata dina habiskan untuk belajar dan belajar.
Sembari menjinjing tas bawaan miliknya, bermaksud untuk dibawa pulang kerumah, dina memberhentikan sebuah taksi, ia terpikirkan 1 tempat.. yaa, rumah Deric, ia ingin memastikan satu hal sebelum ia memulai kembali segalanya. Sopir taksi tersebut mengiyakan alamat yang dina berikan, tidak sampai 1 jam ia telah sampai di depan rumah Deric. Dina menelusuri pandangannya mencari-cari sosok itu.
'Itu dia..'
Dilihatnya pria itu sedang bersama seorang wanita, mereka tampak bahagia, tidak ada 1 kebohongan pun di wajah sang pria. Dina tersenyum, ia paham sekarang.. ini bukan masalah seberapa lama kami bersama, tapi dengan siapa seharusnya kita bersama. Mungkin Deric bukanlah jodohnya, dan semua kejadian itu terjadi karna memang harus terjadi. Saat ini, walaupun Deric terlihat seperti bajingan, tapi dina tetap bahagia, dan dina merasa bangga terhadap dirinya sendiri karena bisa merubah takdirnya, ia juga berterima kasih kepada tuhan yang telah memberinya kesempatan ini. Dilihatnya lagi pasangan bahagia itu, dina harap, semoga mereka tetap bahagia sampai maut memisahkan.
'Goodbye Deric, thank you for teaching me so many things. Thank you so much.'
Dina tersenyum dan membalikan badannya, kembali memasuki taksi, ia kemudian menyebutkan alamat rumah orang tuanya, ia rindu dengan orang tuanya, saat ini ia akan fokus dengan pekerjaannya dan juga orang tuanya, tak ada yang ingin ia pikirkan lagi selain dua hal tersebut. Menurut dina, hal lainnya akan datang seiring berjalannya waktu, namun untuk saat ini ia hanya ingin menikmati waktunya, ia senang bisa sebahagia ini. Ia harap ia bisa terus sebahagia ini kedepannya.
'To my 18 years old.. Thank you for everything.. It was because of you, everything can change for the better. Thank you for saving our precious future. Thank you for being the best version of dina. But.. no matter how old you are, you're the best version of yourself, as long as it's what you like and what you do is the right things. Now.. I'm just the strongest.. thank you to myself.'