Kabur
Setelah mengetahui kebenaran bahwa ibu dan pria yang disukainya akan menikah, shauma pun terkena mental. Ia memutuskan untuk kabur dari rumah. Shauma minggat dan numpang hidup di rumah rayhan.
“Ray, gue disini dulu ya gue gak sanggup kalo harus ketemu mereka berdua” ucap shauma sambil ngacak-ngacak kasur rayhan.
“Iya shauma gapapa” Balas rayhan sambil mengelus dada melihat kelakuan teman magadir nya ini.
Setelah mengacak-acak kasur rayhan, shauma bingung ingin melakukan apa lago, ia bosan.
aha~
Shauma ingat kalo rayhan tetanggaan dengan bams, temannya sejak masih orok merah. Ia pun segera tancap gas ke rumah bams untuk mencari sesuatu yang bisa di acak-acak.
Tak sampai semenit, shauma telah sampai di depan kamar bams. Ia langsung mendobrak kamar bams seperti satpol pp lagi meringkus cabe-cabean. Tak ada yang aneh, sampai dilihatnya bams yang sedang melihat foto Dinda, ibunya.
“Bams, lo.. lo.. lo ngapain liatin foto emak gue?” Tanya shauma terkaget-kaget sembari mendekati bams yang sedang tergolek di atas meja.
“Eh? Apa? Ngga kok..” Balas bams gugup sambil menyembunyikan foto dinda.
Shauma memicingkan matanya melihat sekiling kamar bams, ia menyadari bahwa banyak foto dinda dan alwi yang bertebaran.. dilihatnya juga boneka santet yang sangat di dekat bams.
“BAMS LO JANGAN SANTET ALWI ANJIR, INI BISA KITA BICARAKAN DENGAN KEPALA DINGIN, BUKAN DENGAN SANTET MENYANTET”
Ucap shauma sambil mengambil boneka santet yang ada di dekat bams. Shauma yakin bams menyukai ibunya dan berniat untuk menyantet alwi karna berani merebut dinda dari pelukannya.
Oh takdir kau suka sekali mempermainkan kita?
Setelah menenangkan bams dan mengantongi boneka santet itu, shauma tidak kembali ke kamar rayhan. Shauma lalu pergi jalan-jalan entah kemana kakinya membawa. Tak lama pahanya terasa bergetar, oh ternyata hengpong nya.. tunggu.. ini pesan dari..