Part O2 : Kimia

1 hari berlalu sejak kejadian aneh yang dihadapi dina muda. Ia benar-benar tidak percaya dengan kejadian tersebut, 'kok dia bisa tau kalo gue naksir kak Deric, padahal naksirnya aja baru kemarin lusa'. Tapi bagaimanapun ia mencoba untuk tidak percaya, tapi dina tua berhasil membuktikan semuanya, dan membuat dirinya terpaksa untuk percaya hal tersebut. 'Ada apa dengan dunia ini, jaman semakin edan!' pikirnya dalam hati seraya mengehela nafas pasrah.

Saat ini dina muda sedang berada di kelasnya, bersiap untuk mengikuti ujian bahasa inggris. Namun, pandangannya teralihkan oleh sesosok wanita di depan ruang kelasnya, 'ngapain dia disini' ia menyernyitkan dahinya seraya melihat sekeliling, tampak biasa saja, tak ada yang merasa terganggu oleh kehadiran sosok tersebut, padahal sosok itu tampak mencolok diantara para siswa lainnya, 'kok yang lain pada biasa aja liat orang asing masuk kelas?' sosok Itu adalah dina tua. Mengerti dengan isi kepala dina muda, dina tua berjalan mendekati meja tempat dina muda duduk.

“Yang lain gak bisa liat saya, cuma kamu yang bisa lihat saya.” ucap dina tua sambil tersenyum. Dina muda terkejut, seketika bulu-bulu halus ditubuhnya berdiri menandakan kalau ia sedang merinding, 'berarti dina tua ini seperti roh halus kan yaa? arwah gentayangan gitu?' dan anehnya, kenapa hanya dina muda yang bisa melihat dia. Belum selesai dengan keterkejutannya, guru kimia datang dan langsung membagikan soal ujian untuk hari itu.

Tunggu dulu..

Dina muda mencoba memahami situasi..

'Guru kimia...?'

KIMIA????

SEKARANG UJIAN KIMIA? BUKAN BAHASA INGGRIS????????

Dina muda menenggelamkan wajahnya di atas meja, ia menjedot-jedotkan dahinya ke meja tempat ia duduk, pasalnya, semalaman suntuk ia belajar bahasa inggris, bukan kimia.. tapi ternyata ia salah jadwal T-T. Dilihatnya soal-soal jahanam tersebut, bagaimana caranya ia menyelesaikan ini semua, sementara otaknya kosong melompong. Tidak ada satupun cara penyelesaian persamaan helmholtz di otaknya detik ini, yang ada hanyalah rumus 16 tenses, haruskah ia memasukan angka-angka ini ke rumus tenses? Dina muda semakin menyernyitkan dahinya, ia ingin pulang ke rumah dan menangis sepuasnya.


Tidak terasa 1 jam telah berlalu, waktu ujian pun hanya tersisa 30 menit lagi, tapi lembar jawaban dina muda masih super bersih, tidak ada coretan sedikitpun, itu karna ia fokus mencoret-coret lembar soal, ia baru menjawab 1 soal itupun belum tentu benar. Dina tua mendekati meja dina muda, yang semula ia duduk di kursi paling belakang yang kosong, sembari memandangi halaman sekolahnya. Ia paham betul apa yang sedang terjadi pada dina muda.

“Saya bisa bantu kamu kerjain ini semua..” ucap dina tua kepada dina muda sesampainya di samping tempat dina muda duduk.

“SERIUS???! bisiknya sambil melirik, berusaha bersikap normal, karna takut dikira aneh bicara sendiri oleh teman-temannya.

“Tapi sebagai gantinya, saya mau kamu lakuin sesuatu..!” jawab dina tua.

Lirik dina muda, memberikan isyarat kata 'Apa?', lalu dina tua menjawab.

“Jauhi Deric, buang perasaan kamu untuk dia. Deal?”

“WHAT????” teriak dina muda, sontak membuat seisi ruangan menoleh padanya. Guru kimianya melototi dina muda sembari memberi isyarat untuk diam dan fokus melanjutkan ujian.

Waktu ujian tersisa 20 menit lagi, dina tua masih berdiri disamping dina muda yang sedang bertarung dengan pikirannya. 'UDAH GILA NI MAHKLUK, MASA GUE BELOM MULAI APA-APA, UDAH DISURUH MUNDUR AJA?' ucapnya dalam hati, namun.. 'tapi gimana dong, gue harus selesaikan ujian ini huhuhu..'

Tidak ada cara lain lagi, dina muda melirik sebelahnya, menganggukan kepalanya perlahan, menandakan ia setuju dengan kesepakatan tersebut, walaupun ia terpaksa. Menurut dina muda, setidaknya untuk saat ini ujiannya lah yang harus ditolong. Tanpa babibu, dina tua lalu memberitahu semua jawaban dari soal-soal kimia tersebut, sebelumnya ia sudah mengerjakan soal tersebut di belakang. Bagi dina tua, soal-soal ini hanyalah kacang, ia jelas tau kalau dina muda akan melakukan kesalahan hari ini, makanya ia sengaja mendatangi dina muda dan melakukan kesepakatan tersebut. Tidak sampai 10 menit, lembar jawaban dina muda sudah terisi penuh, beberapa siswa pun sudah meninggalkan ruangan ujian, diikuti oleh dina muda yang tampak khawatir dengan jawaban soalnya. 'Awas aja kalo salah semua' ucapnya dalam hati seraya memelototi dina tua yang telah keluar kelas lebih dulu.

Dina muda bingung, sebenarnya ada apa dengan dina tua, bagaimana bisa ia menjadi tak kasat mata??? 'Ya tuhan? apa sebenarnyanya dia..' ia buru-buru menggelengkan kepalanya berusaha membersihkan pikirannya dari hal-hal yang tidak diharapkan, dan apa? kenapa dina tua meminta dirinya untuk menjauhi Deric. Apakah sebenarnya Deric itu homo? Tapi bagaimanapun, dina muda ialah pemilik jiwa muda, mau bagaimanapun rintangan yang menerjang, ia akan terus menyukai Deric, karna Deric adalah cinta pertamanya.

Next : Part O3 . .