Part O4 : That Necklace
Siang itu dina muda sibuk mengitari 1 mall di kota nya, ia keliling-keliling untuk mencari hadiah ulang tahun Deric. 'Kira-kira hadiah apa yang cocok untuk kak Deric yaa hmm' pikirnya dalam hati. Setelah selesai dengan pikirannya, ia mendapati 1 toko jam tangan, ia langsung melenggangkan kakinya untuk masuk dan melihat-lihat.
“Hmm ini bagus.. mbak bungkus yang ini satu yaa, oiya.. boleh titip note sekalian mbak? makasih!” ucap dina muda sembari menjunjuk jam tangan hitam pria, mbak penjaga toko lalu memberikan secarik kertas dan pulpen, kemudian dina muda menuliskan ucapan 'happy birthday untuk kak Deric' lalu menyelipkan kartu ucapan tersebut di dalam kotak jam tangan itu.
Setelah selesai dengan hadiah ulang tahun, ia buru-buru pulang ke rumah untuk menyembunyikan hadiah tersebut dari dina tua, takut-takut hadiah tersebut di ketahuinya, bisa-bisa hadiah ini dia ambil atau bahkan dia buang.
D-day – Deric Birthday Party
Seharian ini dina muda mematut dirinya di depan cermin, takut jika wajahnya tiba-tiba ditumbuhi jerawat rindu huhu. Malam ini adalah malamnya, malam dimana ia bisa menampakkan dirinya di depan pria yang ia sukai. 'Byutifullllll' pujinya pada diri sendiri.
Setelah lelah berkaca, dina muda menyadari bahwa sedari pagi dina tua tidak menampakkan dirinya, 'Dia gak cape apa yaa keliling komplek tiap hari, padahal gak ada yang berubah juga.'
TEMPAT ACARA
Dina muda berdiri di depan kaca mobil orang lain, kembali ia cek riasannya, apakah ada cabai di giginya atau ada bulu hidung yang menjuntai keluar, jika iya.. dia bisa mati berdiri karena malu. Diambilnya kotak hadiah berisi jam tangan yang ia beli waktu itu, dina muda mulai memasuki tempat acara. 'Ramai'.. kata pertama yang ia keluhkan dalam hati. Namun, belum sempat fokus mengeluh, ia sudah melihat sang pemilik acara.. 'Ganteng banget ya allahhhhhh!” Malam ini kak Deric memakai pakaian santai namun terlihat berkelas, ditambah kacamata unyue nya yang membuat ia terlihat lucu namun juga sexy. Dina muda lalu menghampiri pria tersebut.
“Kak Deric! selamat ulang tahun yaa hehehe.. semoga suka hadiah nyaa!” ucap dina muda setelah berada di hadapan Deric seraya memberikan kotak hadiah yang telah ia siapkan. Deric tersenyum menyambut hadiah yang diberikan dina muda, “Makasih din, repot-repot segala.” Deric tersenyum memandangi kotak pemberian dina, “Buka aja kak kalo penasaran hehe.” ucap dina dibarengi cengiran khas nya, dina muda tampak gugup, baru kali ini ia memberikan hadiah kepada pria, terlebih pria ini adalah orang yang ia sukai.
“Asik, gue buka yaa din..” Deric bersiap membuka kotak tersebut, tapi..
“Der, ibu lo manggil noh..!” terdengar suara dari lantai atas, sontak Deric mengalihkan pandangannya. “Emm, din.. gue ke atas dulu yaa, hadiahnya gue buka nanti, ibu gue manggil.. btw, thanks hadiahnya, dan... kedatangannya.” ucap Deric sambil tersenyum, sesaat setelahnya ia pergi ke tempat ibu nya berada.
Deric di dalam ruangan bersama ibunya
“Udah semua der?” tanya ibunya deric. “Udah kok bu.” jawab Deric santai sambil melihat kotak yang ia bawa. “Apa itu der? hadiah dari temanmu? buka dong, ibu kepo!” Deric tersenyum ke ibunya, ia menggangguk menandakan ia setuju dengan kemauan ibunya. Perlahan ia buka kotak itu, dilihatnya isi kotak tersebut..
“Der...... itukan.....” ucap ibunya Deric sambil menunjuk barang tersebut. Deric membaca secarik kertas yang ada di dalamnya, ia bingung.
Tempat acara lantai bawah
Sebentar lagi menuju acara puncak, namun kak Deric belum juga terlihat, 'Apa ada masalah yaa sama ibunya' tanya dina muda dalam hati. Sesaat setelah ia tenggelam dalam pikirannya, dilihatnya sosok tersebut, sosok itu berjalan ke arahnya, tapi apa itu? wajahnya terlihat pucat dan....
“Pergi dari sini, dan gue harap kita gak akan ketemu lagi.” ucap Deric sembari mengembalikan kotak pemberian dina muda. 'Marah' itu ekspresi yang dilihatnya dari wajah kak Deric. Dina muda sangat terkejut 'Ada apa ini' sekarang semua tamu undangan melirik pada dina muda, ia sangat malu dan kecewa. 'Apa-apaan pria ini, gak sopan!'
“Kak, ada apa? kok tiba-tiba kaya gini.. aku ada salah?” tanya dina berusaha menahan air matanya. “Gak ada, gue cuma gamau lagi liat lo disini, pergi!” jawab Deric dengan jari telunjuknya menunjukkan arah pintu keluar. Dina muda sangat kecewa atas perlakuan Deric, ia menggenggam erat kotak hadiah yang Deric kembalikan, dina muda berlari keluar. Ia berlari sembari menahan air mata, setelah dirasa cukup jauh ia berlari, dina muda menduduki dirinya di trotoar, ia nangis sejadi-jadinya, ia bingung dengan apa yang terjadi.
Tak lama, ada seseorang yang menepuk pundaknya. Dina muda kaget, takut jika itu orang cabul, diliriknya orang tersebut.. ternyata dia lagi, yaa dina tua. Tunggu.. apa yang ia lakukan disini. Dina muda mulai curiga, di ambilnya kotak hadiah yang tadinya ia berikan untuk kak Deric, dibukanya kotak tersebut.. betapa kagetnya dina muda melihat isi kotak itu.
“KALUNG?” ucap dina muda penuh emosi. “LO YANG NUKER HADIAH GUE SAMA KALUNG INI HAH? MAKSUD LO APA?” tanya dina muda menggebu-gebu, nafasnya tak menentu karna di selimuti oleh emosi.
“Iya, saya yang nuker.. kamu keras kepala din, saya minta kamu buat gak deket-deket Deric, kamu malah nekat datengin rumahnya..”
Dina muda sudah tidak sanggup lagi menahan emosinya, “HAK LO APA SIH LARANG-LARANG GUE BUAT GAK DEKET SAMA ORANG YANG GUE SUKA? HAK LO APA? GUE PERCAYA LO DARI MASA DEPAN, GUE TERIMAKASIH LO BANTUIN GUE SELAMA INI, GUE TERIMAKASIH BANGET.. TAPI LO GAK HARUS KAN KAYA BEGINI?” bentak dina muda di depan wajah dina tua, air matanya kian menggenang di pelupuk mata, emosinya sudah diubun-ubun.
“Din, niat saya baik.. ini untuk kebaikan diri kamu sendiri, kebaikan kita.” balas dina tua berusaha sesabar mungkin.
“WHO HURT YOU, LO YAKIN INI UNTUK KEBAIKAN KITA HAH? KENAPA LO HANCURIN HIDUP GUE, IKUT CAMPUR URUSAN GUE, LO DARI MASA DEPAN, URUSIN AJA URUSAN LO SENDIRI, BISA KAN? ADA MASALAH APA SIH LO SEBENERNYA!?” lagi-lagi bentak dina muda, kini bentakkannya sudah kelewatan, dina tua sudah tidak dapat membendung emosi yang ditahannya.
“ELO YANG BERMASALAH, LO YANG BIKIN MASALAH, LO JUGA YANG HANCURIN HIDUP GUE DIN!” teriak dina tua, mengabaikan formalitas dalam ucapannya kali ini, menandakan bahwa ia sangat emosi. Tangisnya pecah.. emosi yang selama ini ia pendam kini ia keluarkan, gadis itu mengadahkan kepalanya keatas langit, tepat saja.. langit juga ikut menitihkan air mata, di suasana yang emosional itu, terdapat dua orang yang saling berhadapan dengan diiringi oleh gerimis sendu.
“Gue? kenapa jadi gue? jelas lo yang..” jawab dina muda.
“IYA ELO! Lo mikir gak sih? kenapa gue masih disini? MIKIR GAK LO? Kenapa gue repot banget ngikutin lo kemana-mana, cuman buat mastiin kalo lo gak ngulangin kesalahan yang sama.” potong dina tua, ia mununjuk-nunjuk dina muda.
“Lo mikir gak kenapa gue bisa ada disini? ITU KARENA LO YANG BERMASALAH, MASALAH YANG LO BUAT ITU MENGHANCURKAN DIRI LO SENDIRI 10 TAHUN KEDEPAN. KARENA LO YANG NAIF, KARENA LO YANG LUGU, KARENA LO YANG KEPALA BATU!” dina muda ikut menangis karna bentakkan tersebut, ia bingung.. sebenarnya apa masalah yang telah ia buat sampai-sampai dirinya di masa depan sampai sebegininya.
“Awalnya gue kira Deric yang ngancurin harapan dan hidup gue, tapi gue sadar.. setelah liat lo sekarang, ternyata diri gue sendiri yang bego!” ucap dina tua sembari mengusap wajahnya yang dipenuhi air mata dan juga air hujan, nafasnya pun terengah.
“Sesuka, secinta dan sesayang apapun Deric saat ini ke lo, lo gak tau gimana Deric 10 tahun kedepan, LO GATAU DIN! lo gatau...” tangis dina tua semakin pecah, isak tangisnya membuat dina muda sangat kecewa dengan dirinya sendiri, ia seperti paham dengan apa yang dirasakan dina tua, perasaan tersebut ikut dirasakannya.
“Setelah lihat reaksi Deric, gue rasa tugas gue disini udah selesai..” ucap dina sembari membersihkan sisa air mata di wajahnya, ia tersenyum ke arah gadis di depannya. “Lebih baik lo patah hati sekarang din, daripada nanti.. karena nanti itu bukan cuma perasaan lo aja yang hancur, tapi semua yang lo punya pun akan ikut hancur! Gue gak nyesel udah hancurin harapan lo untuk Deric, sekarang gue udah tenang kalo kenyataannya lo gak bakal sama Deric, tolong jalani hidup lo dengan baik, raih cita-cita lo, jangan pernah menyerah atas mimpi lo untuk jadi dokter, cuma itu satu-satunya harapan dan mimpi yang harus lo gapai, semoga lo bisa mewujudkan mimpi kita din.. gue minta maaf atas segalanya, sekarang.. gue pamit!” ucap dina tua seraya membalikkan badan dan berjalan menjauhi dirinya yang berusia 18 tahun itu.
Dina muda hanya melihat punggung wanita tersebut, hatinya mencelos merasakan duka lara yang mungkin dirasakan dirinya diumur 28 tahun itu.
'Ada apa dengan dirinya 10 tahun kedepan, hal apa yang membawanya sampai kesini?' Pikirnya yang masih menatap punggung wanita itu yang semakin menjauh dan kini menghilang dari pandangannya.
Namun, bagaimanapun.. ia percaya dengan petuah wanita itu, memang benar, selain Deric, harapannya adalah menjadi dokter, tepatnya dokter gigi. Kini ia sadar, masih banyak hal-hal yang perlu ia lakukkan. Ia ikut membalikkan badannya dan berjalan pulang.
Entah apa yang terjadi pada dirinya 10 tahun kemudian, yang dina ingin lakukan sekarang adalah mewujudkan mimpinya, untuk 10 tahun kedepan biarlah ia serahkan kepada dirinya yang berusia 28 tahun, kini dina muda menyerah dengan perasaannya atas Deric, fokusnya kali ini adalah belajar dan belajar.. belajar untuk mewujudkan impiannya dan belajar menjadi orang yang lebih baik lagi.
'People come and go, and some people should be forgotten on this journey.. and I choose to forget everything about you, kak Deric.'
'and, to my otherself, you and I are not that much different, we've been hurt and can only become stronger.. whatever happens to you, i hope you will be more stronger.'
Next : Epilog . .