Hari ini adalah hari jadi hubungan dina dan Deric yang ke-10 tahun, tak terasa hubungan mereka sudah berjalan sejauh ini, baginya.. waktu 10 tahun adalah hal yang paling berharga, kebersamaannya dengan Deric adalah prioritas utamanya saat ini. Selama 10 tahun ini ia hanya fokus kepada Deric, impiannya saat berusia 18 tahun telah ia lupakan, walaupun sedih.. namun ia telah menerimanya, kini ia harus puas dengan dirinya yang menjadi guru les kimia. Suka duka dalam hubungannya bersama Deric telah ia lewati, persiapan menuju ke jenjang selanjutnya pun sudah mereka persiapkan. Saat ini dina sedang menuju rumah Deric, sudah 3 tahun belakangan, Deric hidup mandiri, niatnya hari ini dina ingin memasakan makanan kesukaan deric, spaghetti bolognese.
Sesampainya di rumah Deric, dina terkejut mendapati Deric yang sedang berdiri di ruang keluarga. “Sayang, tumben kamu gak kerja?” ucap dina menghampiri Deric, seraya mengusap bahu kekasihnya itu.
Deric melepaskan tangan dina dari bahu nya. “Duduk, aku mau bicara din.” ucap Deric serius. Dina tau ada yang tidak beres dengan kekasihnya ini, dilihatnya wajah pria itu yang lusuh. “Ada apa hm?” ucap dina yang kini telah mendudukan dirinya di sofa.
“Aku mau kita batalin semuanya din..” ucap Deric, dina menatap Deric tidak percaya. “Kamu ngomong apaansi? gajelas banget.. gak asik ah bercandanya, aku mau ke dapur aja yaa..”
“Aku gak bahagia hidup sama kamu din..” ucap Deric sebelum dina bangkit dari duduknya. Dina menahan nafasnya. Ditatapnya sang kekasih lekat-lekat.
“Maksud kamu apa deh? kok tiba-tiba banget ngomong gini?” jawab dina masih menganggap bahwa pria dihadapannya ini sedang melakukan hal konyol.
“Aku pikir, dengan keputusan kita untuk menikah bakal ngembaliin perasaan aku seperti dulu, saat aku cinta sama kamu, tapi aku salah, perasan itu gabisa balik lagi din, aku minta maaf sama kamu.. aku juga gak tau kenapa tiba-tiba perasaan aku hilang untuk kamu, yang aku rasa sekarang adalah kehampaan, jujur.. aku udah gak rasain perasaan itu lagi ke kamu.” ucap Deric dengan wajah frustasi.
“Kamu.. kamu serius?” tanya dina dengan air mata yang mulai menyusuri pipinya. Pria itu menganggukan kepalanya perlahan. Dina mengepalkan tangannya, lalu memukul dada pria di depannya ini, dina memukulnya berkali-kali diiringi oleh tangisannya.
“Jahat, kenapa kamu lakuin ini ke aku? kenapa kamu harus jujur kaya gini hah? KENAPA?” Ini tidak adil baginya, selama ini dina pikir hubungannya baik-baik saja, karena Deric tidak terlihat berubah dari sifat maupun sikapnya, semuanya terlihat manis dimata dina.. tapi ia salah, yang terlihat baik-baik saja belum tentu itu yang sebenarnya.
“Maafin aku din, tapi aku gak bisa lagi sama kamu.. aku gak bisa lagi selalu pura-pura depan kamu, maafin aku yang udah nyia-nyiain 10 tahun berharga kamu, aku harap kamu paham dan bisa nerima keputusan aku.. aku..”
Dina muak dengan ini semua, ia buru-buru bangkit dari duduknya, ia lalu berlari keluar rumah Deric, panggilan Deric pun tak ia indahkan, ia hanya fokus berlari, berlari sejauh mungkin, berusaha menghilangkan rasa sakit di dadanya dengan berlari. 'Apa katanya? perasaannya hilang tiba-tiba? yang benar saja? sangat tidak masuk akal', ia tidak habis pikir dengan apa yang terjadi padanya saat ini, mengapa tuhan mengambil satu-satunya harapan yang ia punya. Ia pikir 'Deric' lah satu-satunya keputusan terbaik yang pernah ia buat, kini ia hancur..
Dina berlari sampai lututnya terasa sakit, ia pun terjatuh dan melukai sikut dan juga lututnya. Namun rasa sakit di lutut dan sikut nya belum bisa mengalahkan rasa sakit di dadanya sekarang, dina kemudian bangkit dari jatuhnya, ia berusaha berjalan kembali dan berlari, sampai..
Tinnnnnn,, BRUAAKKK~
Dina merasakan dirinya yang melayang, kini ia juga merasakan tubuhnya yang seringan kapas, sedetik kemudian ia merasakan seluruh tubuhnya yang sakit, ia tersenyum melihat langit, setidaknya rasa sakit di tubuhnya dapat mengalahkan rasa sakit di hatinya.
Ini benar-benar tidak adil, setelah Tuhan merenggut harapannya.. apakah ia juga akan merenggut hidupnya.. seribu satu pertanyaan yang terlintas dikepalanya saat ini, namun hanya ada 1 pertanyaan yang ingin sekali ia dengar jawabannya..
'Jika bisa memutar waktu kembali, apakah ia boleh merubah takdir yang ada..?'
Perlahan kesadarannya pun memudar, semua tampak berbayang dimatanya, sampai semuanya pun gelap.
'Semuanya telah berakhir, kan?'
KILAS BALIK
Dina terbangun dan mendapati dirinya berada di 10 tahun sebelumnya, dimana seharusnya saat itu usianya baru 18 tahun. Aneh, ia ingat dengan jelas kalau ia mengalami kecelakaan, kenapa ia bisa muncul disini bukankah seharusnya dia berada di rumah sakit atau bisa juga.. di akhirat. Dan yang lebih anehnya lagi, saat ini ia tidak terlihat muda, ia tetap terlihat dina yang berusia 28 tahun. Sementara dirinya yang berumur 18 tahun tepat dihadapannya, dan sedang memastikan bahwa kejadian ini nyata.
Esoknya, ia baru menyadari bahwa ia datang dengan keadaan sebagai arwah dan tak kasat mata, karena semua orang tidak bisa melihatnya. Berhari-hari ia wisata masa lalu, melihat keluarga dan orang sekitarnya yang sehat dan bahagia. Ia juga ikut bahagia, walaupun ia tidak bisa menyentuh ataupun berbicara dengan mereka. Ada kalanya dina merasa sedih karena keadannya saat ini, namun ia mengerti.. bahwa kehidupannya telah berakhir di usia 28 tahun.
Dina berusaha menerima keadaannya yang sekarang, ia juga mengerti mengapa tuhan membawanya kesini, tuhan ingin memberikan dina kesempat untuk merubah segalanya, terutama tentang Deric.
Menjauhi Deric dari dirinya sedari awal adalah hal yang harus ia lakukan, ia sadar lukanya terlalu hebat untuk dirasakan, dina telah merelakan semua yang ia punya hanya untuk bersama Deric, sialnya ia harus menerima segala kekecewaan dari pria itu. Kali ini dina akan berusaha untuk merubah takdirnya.. oleh karena itu, ia melakukan berbagai cara agar dina masa muda tidak jatuh cinta kepada Deric, ia pikir 'Sebaiknya menjauh, daripada harus merasakan luka itu'.
Sampai saat-saat penting itu terjadi, di saat-saat harusnya jalinan kasih antara dirinya dan Deric dimulai, latihan PMR.. seharusnya saat itu Deric mulai jatuh hati pada dina, dan malam itu saat ulang tahun Deric, seharusnya itu moment penting untuk mereka, karena saat itulah awalnya mereka bisa dekat dan memahami diri masing-masing.
Dina berusaha mencari cara agar kejadian itu tidak terulang kepadanya, ia melakukan segala cara.. sampai ia menyentuh benda yang berada di lehernya, ia heran mengapa benda ini masih menggantung di lehernya, apakah benda ini yang akan membantunya untuk mengakhiri semua kisahnya bersama Deric?
Ia menukar isi kotak hadiah yang akan diberikan dina masa muda dengan benda itu, ia tau dina muda menyembunyikannya agar ia tidak tau, tapi ia tidak sengaja melihat nya saat dina muda menyembunyikan hadiah itu, setelah menukar isi kotak nya, tidak lupa dina menyelipkan sepucuk surat yang harus dibaca oleh Deric..
Untuk : Deric
Dari : Dina, yang berusia 28 tahun.
Mungkin kamu tidak percaya dengan omonganku kali ini dan juga benda yang kamu lihat, benda itu milik ibumu yang kamu berikan untukku di hari jadi kita ke 8 tahun. Mungkin ini sulit dipercaya, tapi hanya ibumu yang dapat memastikannya.
Satu pintaku, jauhi hidupku sejauh yang kamu bisa, aku tidak pernah bahagia hidup bersama kamu, kamu merebut mimpiku dariku, kamu menghancurkan segalanya.. aku mohon, jangan pernah berpikir untuk mendekatiku sekarang, besok dan hari-hari berikutnya. Jalani hidupmu yang sekarang hanya dengan tanpa aku didalamnya.
Selamat tinggal, Deric.
Tulisnya, 'bohong!' yang ia tulis penuh kebohongan, nyatanya 10 tahun ini dina selalu bahagia bersama Deric, terpaksa ia tulis seperti itu semata-mata demi kebaikan bersama, 'Sebaiknya kita tidak pernah berhubungan sama sekali', pikirnya.
Seperti dugaannya, Deric memanglah Deric, Deric usia 20 tahun adalah Deric versi terbaik, ia melakukan hal yang dina minta, dina melihat tatapan sendu Deric, bukannya dina tak tahu kalo saat ini Deric juga sudah menyukai dina, maaf Deric.. memang sebaiknya seperti ini.
Ia berlari menyusul dina muda, dan mereka berdebat habis-habisan malam itu, setelah perdebatan hebat antara ia dan dirinya yang berusia 18 tahun, dina berjalan menjauhi bocah keras kepala itu, ia telah melakukan tugasnya, misinya pun telah usai. Untuknya, Deric bukan lagi bagian dari hidupnya lagi, dan ini akhir yang ia pilih.
Setelah berjalan tanpa arah, kini dina berdiri di sebuah halte bus, ia tidak tau harus kemana lagi setelah ini, ia khawatir nasibnya akan menjadi arwah gentayangan.. setidaknya tolong biarkan ia naik dan bereinkarnasi.
Beberapa saat setelah ia bergumul dengan pikirannya, dina melihat seseorang yang ia kenal di dalam bus, dina tersenyum.. itu adalah saingannya, orang yang juga menyukai Deric seperti dina yang menyukai Deric, mungkin ia lah orang yang akan membuat Deric bahagia selamanya. Dina terus tersenyum, walaupun nasibnya tidak tentu, tapi ia merasa lega, setelah tahu bahwa pria yang ia cintai selama ini, akan berada di dalam dekapan orang yang tepat
Dina berjalan menuju bus.. berniat untuk ikut masuk ke dalaamnya, tapi..
Brukkkkk~
Tubuhnya terhuyung ke belakang, pandangannya kabur, seluruh tubuhnya kesakitan, namun tidak ada yang menolongnya karna ia tembus pandang, 'Ada apalagi ini? apakah tuhan tidak senang karna dina berhasil merubah segalanya? apa tuhan menyesal atas keputusannya? ada apa tuhan?' sedetik kemudian pandangannya menjadi gelap.
KEMBALI ME MASA ITU
Tit.. tit.. tit..
Bunyi alat pendeteksi detak jantung, suara yang pertama kali ia dengar, matanya terasa berat, tidak bisa ia buka.. ingatannya memutari kepalanya, ia ingat hal yang terakhir ia lakukan adalah berdiri di halte bus sembari memandangi seseorang. Dina berusaha untuk menggerakan jari-jemarinya, tak lama ada suara yang berteriak..
“Dok? dokter dina? dok? ALHAMDULILLAH UDAH SADARRRR.. PANGGILIN DOKTER ILHAM CEPET!”
Setelah mendengar teriakan tersebut, kesadaran dina kembali hilang karna rasa kantuk yang dirasakannya. Bau obat-obatan yang ia hirup, diyakininya bahwa sekarang ia berada di rumah sakit.
'Apa ini? dia tidak jadi mati? dan apa barusan ia dipanggil dokter dina? apakah dunianya sungguh sudah berubah?'
Next : Epilog . .