Storytalelicha

Sebulan berlalu pasca pemulihan dirinya, ternyata selama ini ia koma selama 3 bulan karna kecelakaan, katanya ia tertabak oleh mobil karena tidak fokus saat menyebrang jalan. Para saksi setempat bilang kalo saat itu dina sedang bermain hp, lalu ia tertabrak oleh sebuah mobil. 'Aneh' padahal dina yakin sebab ia tertabrak karna ia terlalu fokus dengan luka yang ada di tubuh dan juga hatinya. Dina masih mengingat kejadian-kejadian itu. Belum selesai dengan kebingungannya, ia makin dibuat bingung dengan ingatannya, kini masa depannya telah berubah, tapi ia masih mengingat tentang Deric dan juga lukanya, walaupun ia sudah tidak merasakan sakit di hatinya, itu terasa seperti menonton serial tv, sakitnya hanya selewat. Ia sangat bingung, apa tujuan tuhan dengan tidak merenggut pula semua ingatannya tentang Deric dan masa lalunya, tentu ia tidak keberatan, tetapi ia hanya bingung.

Hari ini dina sudah diperbolehkan untuk pulang, ternyata dina adalah dokter gigi yang praktek di rumah sakit tempat ia dirawat, pantas saja saat itu para suster mengenalinya dan juga memanggilnya dengan sebutan 'dokter', itu karna mereka mengenal dina sebagai dokter spesialis gigi di rumah sakit tersebut. Dina tidak percaya, ternyata cita-citanya bisa terwujud, 10 tahun ini ternyata dina habiskan untuk belajar dan belajar.

Sembari menjinjing tas bawaan miliknya, bermaksud untuk dibawa pulang kerumah, dina memberhentikan sebuah taksi, ia terpikirkan 1 tempat.. yaa, rumah Deric, ia ingin memastikan satu hal sebelum ia memulai kembali segalanya. Sopir taksi tersebut mengiyakan alamat yang dina berikan, tidak sampai 1 jam ia telah sampai di depan rumah Deric. Dina menelusuri pandangannya mencari-cari sosok itu.

'Itu dia..'

Dilihatnya pria itu sedang bersama seorang wanita, mereka tampak bahagia, tidak ada 1 kebohongan pun di wajah sang pria. Dina tersenyum, ia paham sekarang.. ini bukan masalah seberapa lama kami bersama, tapi dengan siapa seharusnya kita bersama. Mungkin Deric bukanlah jodohnya, dan semua kejadian itu terjadi karna memang harus terjadi. Saat ini, walaupun Deric terlihat seperti bajingan, tapi dina tetap bahagia, dan dina merasa bangga terhadap dirinya sendiri karena bisa merubah takdirnya, ia juga berterima kasih kepada tuhan yang telah memberinya kesempatan ini. Dilihatnya lagi pasangan bahagia itu, dina harap, semoga mereka tetap bahagia sampai maut memisahkan.

'Goodbye Deric, thank you for teaching me so many things. Thank you so much.'

Dina tersenyum dan membalikan badannya, kembali memasuki taksi, ia kemudian menyebutkan alamat rumah orang tuanya, ia rindu dengan orang tuanya, saat ini ia akan fokus dengan pekerjaannya dan juga orang tuanya, tak ada yang ingin ia pikirkan lagi selain dua hal tersebut. Menurut dina, hal lainnya akan datang seiring berjalannya waktu, namun untuk saat ini ia hanya ingin menikmati waktunya, ia senang bisa sebahagia ini. Ia harap ia bisa terus sebahagia ini kedepannya.

'To my 18 years old.. Thank you for everything.. It was because of you, everything can change for the better. Thank you for saving our precious future. Thank you for being the best version of dina. But.. no matter how old you are, you're the best version of yourself, as long as it's what you like and what you do is the right things. Now.. I'm just the strongest.. thank you to myself.'

E N D

Sebulan berlalu pasca pemulihan dirinya, ternyata selama ini ia koma selama 3 bulan karna kecelakaan, katanya ia tertabak oleh mobil karena tidak fokus saat menyebrang jalan. Para saksi setempat bilang kalo saat itu dina sedang bermain hp, lalu ia tertabrak oleh sebuah mobil. 'Aneh' padahal dina yakin sebab ia tertabrak karna ia terlalu fokus dengan luka yang ada di tubuh dan juga hatinya. Dina masih mengingat kejadian-kejadian itu. Belum selesai dengan kebingungannya, ia makin dibuat bingung dengan ingatannya, kini masa depannya telah berubah, tapi ia masih mengingat tentang Deric dan juga lukanya, walaupun ia sudah tidak merasakan sakit di hatinya, itu terasa seperti menonton serial tv, sakitnya hanya selewat. Ia sangat bingung, apa tujuan tuhan dengan tidak merenggut pula semua ingatannya tentang Deric dan masa lalunya, tentu ia tidak keberatan, tetapi ia hanya bingung.

Hari ini dina sudah diperbolehkan untuk pulang, ternyata dina adalah dokter gigi yang praktek di rumah sakit tempat ia dirawat, pantas saja saat itu para suster mengenalinya dan juga memanggilnya dengan sebutan 'dokter', itu karna mereka mengenal dina sebagai dokter spesialis gigi di rumah sakit tersebut. Dina tidak percaya, ternyata cita-citanya bisa terwujud, 10 tahun ini ternyata dina habiskan untuk belajar dan belajar.

Sembari menjinjing tas bawaan miliknya, bermaksud untuk dibawa pulang kerumah, dina memberhentikan sebuah taksi, ia terpikirkan 1 tempat.. yaa, rumah Deric, ia ingin memastikan satu hal sebelum ia memulai kembali segalanya. Sopir taksi tersebut mengiyakan alamat yang dina berikan, tidak sampai 1 jam ia telah sampai di depan rumah Deric. Dina menelusuri pandangannya mencari-cari sosok itu.

'Itu dia..'

Dilihatnya pria itu sedang bersama seorang wanita, mereka tampak bahagia, tidak ada 1 kebohongan pun di wajah sang pria. Dina tersenyum, ia paham sekarang.. ini bukan masalah seberapa lama kami bersama, tapi dengan siapa seharusnya kita bersama. Mungkin Deric bukanlah jodohnya, dan semua kejadian itu terjadi karna memang harus terjadi. Saat ini, walaupun Deric terlihat seperti bajingan, tapi dina tetap bahagia, dan dina merasa bangga terhadap dirinya sendiri karena bisa merubah takdirnya, ia juga berterima kasih kepada tuhan yang telah memberinya kesempatan ini. Dilihatnya lagi pasangan bahagia itu, dina harap, semoga mereka tetap bahagia sampai maut memisahkan.

'Goodbye Deric, thank you for teaching me so many things. Thank you so much.'

Dina tersenyum dan membalikan badannya, kembali memasuki taksi, ia kemudian menyebutkan alamat rumah orang tuanya, ia rindu dengan orang tuanya, saat ini ia akan fokus dengan pekerjaannya dan juga orang tuanya, tak ada yang ingin ia pikirkan lagi selain dua hal tersebut. Menurut dina, hal lainnya akan datang seiring berjalannya waktu, namun untuk saat ini ia hanya ingin menikmati waktunya, ia senang bisa sebahagia ini. Ia harap ia bisa terus sebahagia ini kedepannya.

'To my 18 years old.. Thank you for everything.. It was because of you, everything can change for the better. Thank you for saving our precious future. Thank you for being the best version of dina. But.. no matter how old you are, you're the best version of yourself, as long as it's what you like and what you do is the right things. Now.. I'm just the strongest.. thank you to myself.

E N D

Sebulan berlalu pasca pemulihan dirinya, ternyata selama ini ia koma selama 3 bulan karna kecelakaan, katanya ia tertabak oleh mobil karena tidak fokus saat menyebrang jalan. Para saksi setempat bilang kalo saat itu dina sedang bermain hp, lalu ia tertabrak oleh sebuah mobil. 'Aneh' padahal dina yakin sebab ia tertabrak karna ia terlalu fokus dengan luka yang ada di tubuh dan juga hatinya. Dina masih mengingat kejadian-kejadian itu. Belum selesai dengan kebingungannya, ia makin dibuat bingung dengan ingatannya, kini masa depannya telah berubah, tapi ia masih mengingat tentang Deric dan juga lukanya, walaupun ia sudah tidak merasakan sakit di hatinya, itu terasa seperti menonton serial tv, sakitnya hanya selewat. Ia sangat bingung, apa tujuan tuhan dengan tidak merenggut pula semua ingatannya tentang Deric dan masa lalunya, tentu ia tidak keberatan, tetapi ia hanya bingung.

Hari ini dina sudah diperbolehkan untuk pulang, ternyata dina adalah dokter gigi yang praktek di rumah sakit tempat ia dirawat, pantas saja saat itu para suster mengenalinya dan juga memanggilnya dengan sebutan 'dokter', itu karna mereka mengenal dina sebagai dokter spesialis gigi di rumah sakit tersebut. Dina tidak percaya, ternyata cita-citanya bisa terwujud, 10 tahun ini ternyata dina habiskan untuk belajar dan belajar.

Sembari menjinjing tas bawaan miliknya, bermaksud untuk dibawa pulang kerumah, dina memberhentikan sebuah taksi, ia terpikirkan 1 tempat.. yaa, rumah Deric, ia ingin memastikan satu hal sebelum ia memulai kembali segalanya. Sopir taksi tersebut mengiyakan alamat yang dina berikan, tidak sampai 1 jam ia telah sampai di depan rumah Deric. Dina menelusuri pandangannya mencari-cari sosok itu.

'Itu dia..'

Dilihatnya pria itu sedang bersama seorang wanita, mereka tampak bahagia, tidak ada 1 kebohongan pun di wajah sang pria. Dina tersenyum, ia paham sekarang.. ini bukan masalah seberapa lama kami bersama, tapi dengan siapa seharusnya kita bersama. Mungkin Deric bukanlah jodohnya, dan semua kejadian itu terjadi karna memang harus terjadi. Saat ini, walaupun Deric terlihat seperti bajingan, tapi dina tetap bahagia, dan dina merasa bangga terhadap dirinya sendiri karena bisa merubah takdirnya, ia juga berterima kasih kepada tuhan yang telah memberinya kesempatan ini. Dilihatnya lagi pasangan bahagia itu, dina harap, semoga mereka tetap bahagia sampai maut memisahkan.

'Goodbye Deric, thank you for teaching me so many things. Thank you so much.'

Dina tersenyum dan membalikan badannya, kembali memasuki taksi, ia kemudian menyebutkan alamat rumah orang tuanya, ia rindu dengan orang tuanya, saat ini ia akan fokus dengan pekerjaannya dan juga orang tuanya, tak ada yang ingin ia pikirkan lagi selain dua hal tersebut. Menurut dina, hal lainnya akan datang seiring berjalannya waktu, namun untuk saat ini ia hanya ingin menikmati waktunya, ia senang bisa sebahagia ini. Ia harap ia bisa terus sebahagia ini kedepannya.

'To my 18 years old.. Thank you for everything.. It was because of you, everything can change for the better. Thank you for saving our precious future. Thank you for being the best version of dina. But.. no matter how old you are, you're the best version of yourself, as long as it's what you like and what you do is the right things. Now, I'm just the strongest.. thank you to myself.

E N D

Hari ini adalah hari jadi hubungan dina dan Deric yang ke-10 tahun, tak terasa hubungan mereka sudah berjalan sejauh ini, baginya.. waktu 10 tahun adalah hal yang paling berharga, kebersamaannya dengan Deric adalah prioritas utamanya saat ini. Selama 10 tahun ini ia hanya fokus kepada Deric, impiannya saat berusia 18 tahun telah ia lupakan, walaupun sedih.. namun ia telah menerimanya, kini ia harus puas dengan dirinya yang menjadi guru les kimia. Suka duka dalam hubungannya bersama Deric telah ia lewati, persiapan menuju ke jenjang selanjutnya pun sudah mereka persiapkan. Saat ini dina sedang menuju rumah Deric, sudah 3 tahun belakangan, Deric hidup mandiri, niatnya hari ini dina ingin memasakan makanan kesukaan deric, spaghetti bolognese.


Sesampainya di rumah Deric, dina terkejut mendapati Deric yang sedang berdiri di ruang keluarga. “Sayang, tumben kamu gak kerja?” ucap dina menghampiri Deric, seraya mengusap bahu kekasihnya itu.

Deric melepaskan tangan dina dari bahu nya. “Duduk, aku mau bicara din.” ucap Deric serius. Dina tau ada yang tidak beres dengan kekasihnya ini, dilihatnya wajah pria itu yang lusuh. “Ada apa hm?” ucap dina yang kini telah mendudukan dirinya di sofa.

“Aku mau kita batalin semuanya din..” ucap Deric, dina menatap Deric tidak percaya. “Kamu ngomong apaansi? gajelas banget.. gak asik ah bercandanya, aku mau ke dapur aja yaa..”

“Aku gak bahagia hidup sama kamu din..” ucap Deric sebelum dina bangkit dari duduknya. Dina menahan nafasnya. Ditatapnya sang kekasih lekat-lekat.

“Maksud kamu apa deh? kok tiba-tiba banget ngomong gini?” jawab dina masih menganggap bahwa pria dihadapannya ini sedang melakukan hal konyol.

“Aku pikir, dengan keputusan kita untuk menikah bakal ngembaliin perasaan aku seperti dulu, saat aku cinta sama kamu, tapi aku salah, perasan itu gabisa balik lagi din, aku minta maaf sama kamu.. aku juga gak tau kenapa tiba-tiba perasaan aku hilang untuk kamu, yang aku rasa sekarang adalah kehampaan, jujur.. aku udah gak rasain perasaan itu lagi ke kamu.” ucap Deric dengan wajah frustasi.

“Kamu.. kamu serius?” tanya dina dengan air mata yang mulai menyusuri pipinya. Pria itu menganggukan kepalanya perlahan. Dina mengepalkan tangannya, lalu memukul dada pria di depannya ini, dina memukulnya berkali-kali diiringi oleh tangisannya.

“Jahat, kenapa kamu lakuin ini ke aku? kenapa kamu harus jujur kaya gini hah? KENAPA?” Ini tidak adil baginya, selama ini dina pikir hubungannya baik-baik saja, karena Deric tidak terlihat berubah dari sifat maupun sikapnya, semuanya terlihat manis dimata dina.. tapi ia salah, yang terlihat baik-baik saja belum tentu itu yang sebenarnya.

“Maafin aku din, tapi aku gak bisa lagi sama kamu.. aku gak bisa lagi selalu pura-pura depan kamu, maafin aku yang udah nyia-nyiain 10 tahun berharga kamu, aku harap kamu paham dan bisa nerima keputusan aku.. aku..”

Dina muak dengan ini semua, ia buru-buru bangkit dari duduknya, ia lalu berlari keluar rumah Deric, panggilan Deric pun tak ia indahkan, ia hanya fokus berlari, berlari sejauh mungkin, berusaha menghilangkan rasa sakit di dadanya dengan berlari. 'Apa katanya? perasaannya hilang tiba-tiba? yang benar saja? sangat tidak masuk akal', ia tidak habis pikir dengan apa yang terjadi padanya saat ini, mengapa tuhan mengambil satu-satunya harapan yang ia punya. Ia pikir 'Deric' lah satu-satunya keputusan terbaik yang pernah ia buat, kini ia hancur..

Dina berlari sampai lututnya terasa sakit, ia pun terjatuh dan melukai sikut dan juga lututnya. Namun rasa sakit di lutut dan sikut nya belum bisa mengalahkan rasa sakit di dadanya sekarang, dina kemudian bangkit dari jatuhnya, ia berusaha berjalan kembali dan berlari, sampai..

Tinnnnnn,, BRUAAKKK~

Dina merasakan dirinya yang melayang, kini ia juga merasakan tubuhnya yang seringan kapas, sedetik kemudian ia merasakan seluruh tubuhnya yang sakit, ia tersenyum melihat langit, setidaknya rasa sakit di tubuhnya dapat mengalahkan rasa sakit di hatinya.

Ini benar-benar tidak adil, setelah Tuhan merenggut harapannya.. apakah ia juga akan merenggut hidupnya.. seribu satu pertanyaan yang terlintas dikepalanya saat ini, namun hanya ada 1 pertanyaan yang ingin sekali ia dengar jawabannya..

'Jika bisa memutar waktu kembali, apakah ia boleh merubah takdir yang ada..?'

Perlahan kesadarannya pun memudar, semua tampak berbayang dimatanya, sampai semuanya pun gelap.

'Semuanya telah berakhir, kan?'


KILAS BALIK

Dina terbangun dan mendapati dirinya berada di 10 tahun sebelumnya, dimana seharusnya saat itu usianya baru 18 tahun. Aneh, ia ingat dengan jelas kalau ia mengalami kecelakaan, kenapa ia bisa muncul disini bukankah seharusnya dia berada di rumah sakit atau bisa juga.. di akhirat. Dan yang lebih anehnya lagi, saat ini ia tidak terlihat muda, ia tetap terlihat dina yang berusia 28 tahun. Sementara dirinya yang berumur 18 tahun tepat dihadapannya, dan sedang memastikan bahwa kejadian ini nyata.

Esoknya, ia baru menyadari bahwa ia datang dengan keadaan sebagai arwah dan tak kasat mata, karena semua orang tidak bisa melihatnya. Berhari-hari ia wisata masa lalu, melihat keluarga dan orang sekitarnya yang sehat dan bahagia. Ia juga ikut bahagia, walaupun ia tidak bisa menyentuh ataupun berbicara dengan mereka. Ada kalanya dina merasa sedih karena keadannya saat ini, namun ia mengerti.. bahwa kehidupannya telah berakhir di usia 28 tahun.

Dina berusaha menerima keadaannya yang sekarang, ia juga mengerti mengapa tuhan membawanya kesini, tuhan ingin memberikan dina kesempat untuk merubah segalanya, terutama tentang Deric.

Menjauhi Deric dari dirinya sedari awal adalah hal yang harus ia lakukan, ia sadar lukanya terlalu hebat untuk dirasakan, dina telah merelakan semua yang ia punya hanya untuk bersama Deric, sialnya ia harus menerima segala kekecewaan dari pria itu. Kali ini dina akan berusaha untuk merubah takdirnya.. oleh karena itu, ia melakukan berbagai cara agar dina masa muda tidak jatuh cinta kepada Deric, ia pikir 'Sebaiknya menjauh, daripada harus merasakan luka itu'.

Sampai saat-saat penting itu terjadi, di saat-saat harusnya jalinan kasih antara dirinya dan Deric dimulai, latihan PMR.. seharusnya saat itu Deric mulai jatuh hati pada dina, dan malam itu saat ulang tahun Deric, seharusnya itu moment penting untuk mereka, karena saat itulah awalnya mereka bisa dekat dan memahami diri masing-masing.

Dina berusaha mencari cara agar kejadian itu tidak terulang kepadanya, ia melakukan segala cara.. sampai ia menyentuh benda yang berada di lehernya, ia heran mengapa benda ini masih menggantung di lehernya, apakah benda ini yang akan membantunya untuk mengakhiri semua kisahnya bersama Deric?

Ia menukar isi kotak hadiah yang akan diberikan dina masa muda dengan benda itu, ia tau dina muda menyembunyikannya agar ia tidak tau, tapi ia tidak sengaja melihat nya saat dina muda menyembunyikan hadiah itu, setelah menukar isi kotak nya, tidak lupa dina menyelipkan sepucuk surat yang harus dibaca oleh Deric..

Untuk : Deric Dari : Dina, yang berusia 28 tahun.

Mungkin kamu tidak percaya dengan omonganku kali ini dan juga benda yang kamu lihat, benda itu milik ibumu yang kamu berikan untukku di hari jadi kita ke 8 tahun. Mungkin ini sulit dipercaya, tapi hanya ibumu yang dapat memastikannya.

Satu pintaku, jauhi hidupku sejauh yang kamu bisa, aku tidak pernah bahagia hidup bersama kamu, kamu merebut mimpiku dariku, kamu menghancurkan segalanya.. aku mohon, jangan pernah berpikir untuk mendekatiku sekarang, besok dan hari-hari berikutnya. Jalani hidupmu yang sekarang hanya dengan tanpa aku didalamnya.

Selamat tinggal, Deric.

Tulisnya, 'bohong!' yang ia tulis penuh kebohongan, nyatanya 10 tahun ini dina selalu bahagia bersama Deric, terpaksa ia tulis seperti itu semata-mata demi kebaikan bersama, 'Sebaiknya kita tidak pernah berhubungan sama sekali', pikirnya.

Seperti dugaannya, Deric memanglah Deric, Deric usia 20 tahun adalah Deric versi terbaik, ia melakukan hal yang dina minta, dina melihat tatapan sendu Deric, bukannya dina tak tahu kalo saat ini Deric juga sudah menyukai dina, maaf Deric.. memang sebaiknya seperti ini.

Ia berlari menyusul dina muda, dan mereka berdebat habis-habisan malam itu, setelah perdebatan hebat antara ia dan dirinya yang berusia 18 tahun, dina berjalan menjauhi bocah keras kepala itu, ia telah melakukan tugasnya, misinya pun telah usai. Untuknya, Deric bukan lagi bagian dari hidupnya lagi, dan ini akhir yang ia pilih.

Setelah berjalan tanpa arah, kini dina berdiri di sebuah halte bus, ia tidak tau harus kemana lagi setelah ini, ia khawatir nasibnya akan menjadi arwah gentayangan.. setidaknya tolong biarkan ia naik dan bereinkarnasi.

Beberapa saat setelah ia bergumul dengan pikirannya, dina melihat seseorang yang ia kenal di dalam bus, dina tersenyum.. itu adalah saingannya, orang yang juga menyukai Deric seperti dina yang menyukai Deric, mungkin ia lah orang yang akan membuat Deric bahagia selamanya. Dina terus tersenyum, walaupun nasibnya tidak tentu, tapi ia merasa lega, setelah tahu bahwa pria yang ia cintai selama ini, akan berada di dalam dekapan orang yang tepat

Dina berjalan menuju bus.. berniat untuk ikut masuk ke dalaamnya, tapi..

Brukkkkk~

Tubuhnya terhuyung ke belakang, pandangannya kabur, seluruh tubuhnya kesakitan, namun tidak ada yang menolongnya karna ia tembus pandang, 'Ada apalagi ini? apakah tuhan tidak senang karna dina berhasil merubah segalanya? apa tuhan menyesal atas keputusannya? ada apa tuhan?' sedetik kemudian pandangannya menjadi gelap.


KEMBALI ME MASA ITU

Tit.. tit.. tit..

Bunyi alat pendeteksi detak jantung, suara yang pertama kali ia dengar, matanya terasa berat, tidak bisa ia buka.. ingatannya memutari kepalanya, ia ingat hal yang terakhir ia lakukan adalah berdiri di halte bus sembari memandangi seseorang. Dina berusaha untuk menggerakan jari-jemarinya, tak lama ada suara yang berteriak..

“Dok? dokter dina? dok? ALHAMDULILLAH UDAH SADARRRR.. PANGGILIN DOKTER ILHAM CEPET!”

Setelah mendengar teriakan tersebut, kesadaran dina kembali hilang karna rasa kantuk yang dirasakannya. Bau obat-obatan yang ia hirup, diyakininya bahwa sekarang ia berada di rumah sakit.

'Apa ini? dia tidak jadi mati? dan apa barusan ia dipanggil dokter dina? apakah dunianya sungguh sudah berubah?'

Next : Epilog . .

Hari ini adalah hari jadi hubungan dina dan Deric yang ke-10 tahun, tak terasa hubungan mereka sudah berjalan sejauh ini, baginya.. waktu 10 tahun adalah hal yang paling berharga, kebersamaannya dengan Deric adalah prioritas utamanya saat ini. Selama 10 tahun ini ia hanya fokus kepada Deric, impiannya saat berusia 18 tahun telah ia lupakan, walaupun sedih.. namun ia telah menerimanya, kini ia harus puas dengan dirinya yang menjadi guru les kimia. Suka duka dalam hubungannya bersama Deric telah ia lewati, persiapan menuju ke jenjang selanjutnya pun sudah mereka persiapkan. Saat ini dina sedang menuju rumah Deric, sudah 3 tahun belakangan, Deric hidup mandiri, niatnya hari ini dina ingin memasakan makanan kesukaan deric, spaghetti bolognese.


Sesampainya di rumah Deric, dina terkejut mendapati Deric yang sedang berdiri di ruang keluarga. “Sayang, tumben kamu gak kerja?” ucap dina menghampiri Deric, seraya mengusap bahu kekasihnya itu.

Deric melepaskan tangan dina dari bahu nya. “Duduk, aku mau bicara din.” ucap Deric serius. Dina tau ada yang tidak beres dengan kekasihnya ini, dilihatnya wajah pria itu yang lusuh. “Ada apa hm?” ucap dina yang kini telah mendudukan dirinya di sofa.

“Aku mau kita batalin semuanya din..” ucap Deric, dina menatap Deric tidak percaya. “Kamu ngomong apaansi? gajelas banget.. gak asik ah bercandanya, aku mau ke dapur aja yaa..”

“Aku gak bahagia hidup sama kamu din..” ucap Deric sebelum dina bangkit dari duduknya. Dina menahan nafasnya. Ditatapnya sang kekasih lekat-lekat.

“Maksud kamu apa deh? kok tiba-tiba banget ngomong gini?” jawab dina masih menganggap bahwa pria dihadapannya ini sedang melakukan hal konyol.

“Aku pikir, dengan keputusan kita untuk menikah bakal ngembaliin perasaan aku seperti dulu, saat aku cinta sama kamu, tapi aku salah, perasan itu gabisa balik lagi din, aku minta maaf sama kamu.. aku juga gak tau kenapa tiba-tiba perasaan aku hilang untuk kamu, yang aku rasa sekarang adalah kehampaan, jujur.. aku udah gak rasain perasaan itu lagi ke kamu.” ucap Deric dengan wajah frustasi.

“Kamu.. kamu serius?” tanya dina dengan air mata yang mulai menyusuri pipinya. Pria itu menganggukan kepalanya perlahan. Dina mengepalkan tangannya, lalu memukul dada pria di depannya ini, dina memukulnya berkali-kali diiringi oleh tangisannya.

“Jahat, kenapa kamu lakuin ini ke aku? kenapa kamu harus jujur kaya gini hah? KENAPA?” Ini tidak adil baginya, selama ini dina pikir hubungannya baik-baik saja, karena Deric tidak terlihat berubah dari sifat maupun sikapnya, semuanya terlihat manis dimata dina.. tapi ia salah, yang terlihat baik-baik saja belum tentu itu yang sebenarnya.

“Maafin aku din, tapi aku gak bisa lagi sama kamu.. aku gak bisa lagi selalu pura-pura depan kamu, maafin aku yang udah nyia-nyiain 10 tahun berharga kamu, aku harap kamu paham dan bisa nerima keputusan aku.. aku..”

Dina muak dengan ini semua, ia buru-buru bangkit dari duduknya, ia lalu berlari keluar rumah Deric, panggilan Deric pun tak ia indahkan, ia hanya fokus berlari, berlari sejauh mungkin, berusaha menghilangkan rasa sakit di dadanya dengan berlari. 'Apa katanya? perasaannya hilang tiba-tiba? yang benar saja? sangat tidak masuk akal', ia tidak habis pikir dengan apa yang terjadi padanya saat ini, mengapa tuhan mengambil satu-satunya harapan yang ia punya. Ia pikir 'Deric' lah satu-satunya keputusan terbaik yang pernah ia buat, kini ia hancur..

Dina berlari sampai lututnya terasa sakit, ia pun terjatuh dan melukai sikut dan juga lututnya. Namun rasa sakit di lutut dan sikut nya belum bisa mengalahkan rasa sakit di dadanya sekarang, dina kemudian bangkit dari jatuhnya, ia berusaha berjalan kembali dan berlari, sampai..

Tinnnnnn,, BRUAAKKK~

Dina merasakan dirinya yang melayang, kini ia juga merasakan tubuhnya yang seringan kapas, sedetik kemudian ia merasakan seluruh tubuhnya yang sakit, ia tersenyum melihat langit, setidaknya rasa sakit di tubuhnya dapat mengalahkan rasa sakit di hatinya.

Ini benar-benar tidak adil, setelah Tuhan merenggut harapannya.. apakah ia juga akan merenggut hidupnya.. seribu satu pertanyaan yang terlintas dikepalanya saat ini, namun hanya ada 1 pertanyaan yang ingin sekali ia dengar jawabannya..

'Jika bisa memutar waktu kembali, apakah ia boleh merubah takdir yang ada..?'

Perlahan kesadarannya pun memudar, semua tampak berbayang dimatanya, sampai semuanya pun gelap.

'Semuanya telah berakhir, kan?'


KILAS BALIK

Dina terbangun dan mendapati dirinya berada di 10 tahun sebelumnya, dimana seharusnya saat itu usianya baru 18 tahun. Aneh, ia ingat dengan jelas kalau ia mengalami kecelakaan, kenapa ia bisa muncul disini bukankah seharusnya dia berada di rumah sakit atau bisa juga.. di akhirat. Dan yang lebih anehnya lagi, saat ini ia tidak terlihat muda, ia tetap terlihat dina yang berusia 28 tahun. Sementara dirinya yang berumur 18 tahun tepat dihadapannya, dan sedang memastikan bahwa kejadian ini nyata.

Esoknya, ia baru menyadari bahwa ia datang dengan keadaan sebagai arwah dan tak kasat mata, karena semua orang tidak bisa melihatnya. Berhari-hari ia wisata masa lalu, melihat keluarga dan orang sekitarnya yang sehat dan bahagia. Ia juga ikut bahagia, walaupun ia tidak bisa menyentuh ataupun berbicara dengan mereka. Ada kalanya dina merasa sedih karena keadannya saat ini, namun ia mengerti.. bahwa kehidupannya telah berakhir di usia 28 tahun.

Dina berusaha menerima keadaannya yang sekarang, ia juga mengerti mengapa tuhan membawanya kesini, tuhan ingin memberikan dina kesempat untuk merubah segalanya, terutama tentang Deric.

Menjauhi Deric dari dirinya sedari awal adalah hal yang harus ia lakukan, ia sadar lukanya terlalu hebat untuk dirasakan, dina telah merelakan semua yang ia punya hanya untuk bersama Deric, sialnya ia harus menerima segala kekecewaan dari pria itu. Kali ini dina akan berusaha untuk merubah takdirnya.. oleh karena itu, ia melakukan berbagai cara agar dina masa muda tidak jatuh cinta kepada Deric, ia pikir 'Sebaiknya menjauh, daripada harus merasakan luka itu'.

Sampai saat-saat penting itu terjadi, di saat-saat harusnya jalinan kasih antara dirinya dan Deric dimulai, latihan PMR.. seharusnya saat itu Deric mulai jatuh hati pada dina, dan malam itu saat ulang tahun Deric, seharusnya itu moment penting untuk mereka, karena saat itulah awalnya mereka bisa dekat dan memahami diri masing-masing.

Dina berusaha mencari cara agar kejadian itu tidak terulang kepadanya, ia melakukan segala cara.. sampai ia menyentuh benda yang berada di lehernya, ia heran mengapa benda ini masih menggantung di lehernya, apakah benda ini yang akan membantunya untuk mengakhiri semua kisahnya bersama Deric?

Ia menukar isi kotak hadiah yang akan diberikan dina masa muda dengan benda itu, ia tau dina muda menyembunyikannya agar ia tidak tau, tapi ia tidak sengaja melihat nya saat dina muda menyembunyikan hadiah itu, setelah menukar isi kotak nya, tidak lupa dina menyelipkan sepucuk surat yang harus dibaca oleh Deric..

Untuk : Deric Dari : Dina, yang berusia 28 tahun.

Mungkin kamu tidak percaya dengan omonganku kali ini dan juga benda yang kamu lihat, benda itu milik ibumu yang kamu berikan untukku di hari jadi kita ke 8 tahun. Mungkin ini sulit dipercaya, tapi hanya ibumu yang dapat memastikannya.

Satu pintaku, jauhi hidupku sejauh yang kamu bisa, aku tidak pernah bahagia hidup bersama kamu, kamu merebut mimpiku dariku, kamu menghancurkan segalanya.. aku mohon, jangan pernah berpikir untuk mendekatiku sekarang, besok dan hari-hari berikutnya. Jalani hidupmu yang sekarang hanya dengan tanpa aku didalamnya.

Selamat tinggal, Deric.

Tulisnya, 'bohong!' yang ia tulis penuh kebohongan, nyatanya 10 tahun ini dina selalu bahagia bersama Deric, terpaksa ia tulis seperti itu semata-mata demi kebaikan bersama, 'Sebaiknya kita tidak pernah berhubungan sama sekali', pikirnya.

Seperti dugaannya, Deric memanglah Deric, Deric usia 20 tahun adalah Deric versi terbaik, ia melakukan hal yang dina minta, dina melihat tatapan sendu Deric, bukannya dina tak tahu kalo saat ini Deric juga sudah menyukai dina, maaf Deric.. memang sebaiknya seperti ini.

Ia berlari menyusul dina muda, dan mereka berdebat habis-habisan malam itu, setelah perdebatan hebat antara ia dan dirinya yang berusia 18 tahun, dina berjalan menjauhi bocah keras kepala itu, ia telah melakukan tugasnya, misinya pun telah usai. Untuknya, Deric bukan lagi bagian dari hidupnya lagi, dan ini akhir yang ia pilih.

Setelah berjalan tanpa arah, kini dina berdiri di sebuah halte bus, ia tidak tau harus kemana lagi setelah ini, ia khawatir nasibnya akan menjadi arwah gentayangan.. setidaknya tolong biarkan ia naik dan bereinkarnasi.

Beberapa saat setelah ia bergumul dengan pikirannya, dina melihat seseorang yang ia kenal di dalam bus, dina tersenyum.. itu adalah saingannya, orang yang juga menyukai Deric seperti dina yang menyukai Deric, mungkin ia lah orang yang akan membuat Deric bahagia selamanya. Dina terus tersenyum, walaupun nasibnya tidak tentu, tapi ia merasa lega, setelah tahu bahwa pria yang ia cintai selama ini, akan berada di dalam dekapan orang yang tepat

Dina berjalan menuju bus.. berniat untuk ikut masuk ke dalaamnya, tapi..

Brukkkkk~

Tubuhnya terhuyung ke belakang, pandangannya kabur, seluruh tubuhnya kesakitan, namun tidak ada yang menolongnya karna ia tembus pandang, 'Ada apalagi ini? apakah tuhan tidak senang karna dina berhasil merubah segalanya? apa tuhan menyesal atas keputusannya? ada apa tuhan?' sedetik kemudian pandangannya menjadi gelap.


KEMBALI ME MASA ITU

Tit.. tit.. tit..

Bunyi alat pendeteksi detak jantung, suara yang pertama kali ia dengar, matanya terasa berat, tidak bisa ia buka.. ingatannya memutari kepalanya, ia ingat hal yang terakhir ia lakukan adalah berdiri di halte bus sembari memandangi seseorang. Dina berusaha untuk menggerakan jari-jemarinya, tak lama ada suara yang berteriak..

“Dok? dokter dina? dok? ALHAMDULILLAH UDAH SADARRRR.. PANGGILIN DOKTER ILHAM CEPET!”

Setelah mendengar teriakan tersebut, kesadaran dina kembali hilang karna rasa kantuk yang dirasakannya. Bau obat-obatan yang ia hirup, diyakininya bahwa sekarang ia berada di rumah sakit.

'Apa ini? dia tidak jadi mati? dan apa barusan ia dipanggil dokter dina? apakah dunianya sungguh sudah berubah?'

Next : Extra Part . .

Hari ini adalah hari jadi hubungan dina dan Deric yang ke-10 tahun, tak terasa hubungan mereka sudah berjalan sejauh ini, baginya.. waktu 10 tahun adalah hal yang paling berharga, kebersamaannya dengan Deric adalah prioritas utamanya saat ini. Selama 10 tahun ini ia hanya fokus kepada Deric, impiannya saat berusia 18 tahun telah ia lupakan, walaupun sedih.. namun ia telah menerimanya, kini ia harus puas dengan dirinya yang menjadi guru les kimia. Suka duka dalam hubungannya bersama Deric telah ia lewati, persiapan menuju ke jenjang selanjutnya pun sudah mereka persiapkan. Saat ini dina sedang menuju rumah Deric, sudah 3 tahun belakangan, Deric hidup mandiri, niatnya hari ini dina ingin memasakan makanan kesukaan deric, spaghetti bolognese.


Sesampainya di rumah Deric, dina terkejut mendapati Deric yang sedang berdiri di ruang keluarga. “Sayang, tumben kamu gak kerja?” ucap dina menghampiri Deric, seraya mengusap bahu kekasihnya itu.

Deric melepaskan tangan dina dari bahu nya. “Duduk, aku mau bicara din.” ucap Deric serius. Dina tau ada yang tidak beres dengan kekasihnya ini, dilihatnya wajah pria itu yang lusuh. “Ada apa hm?” ucap dina yang kini telah mendudukan dirinya di sofa.

“Aku mau kita batalin semuanya din..” ucap Deric, dina menatap Deric tidak percaya. “Kamu ngomong apaansi? gajelas banget.. gak asik ah bercandanya, aku mau ke dapur aja yaa..”

“Aku gak bahagia hidup sama kamu din..” ucap Deric sebelum dina bangkit dari duduknya. Dina menahan nafasnya. Ditatapnya sang kekasih lekat-lekat.

“Maksud kamu apa deh? kok tiba-tiba banget ngomong gini?” jawab dina masih menganggap bahwa pria dihadapannya ini sedang melakukan hal konyol.

“Aku pikir, dengan keputusan kita untuk menikah bakal ngembaliin perasaan aku seperti dulu, saat aku cinta sama kamu, tapi aku salah, perasan itu gabisa balik lagi din, aku minta maaf sama kamu.. aku juga gak tau kenapa tiba-tiba perasaan aku hilang untuk kamu, yang aku rasa sekarang adalah kehampaan, jujur.. aku udah gak rasain perasaan itu lagi ke kamu.” ucap Deric dengan wajah frustasi.

“Kamu.. kamu serius?” tanya dina dengan air mata yang mulai menyusuri pipinya. Pria itu menganggukan kepalanya perlahan. Dina mengepalkan tangannya, lalu memukul dada pria di depannya ini, dina memukulnya berkali-kali diiringi oleh tangisannya.

“Jahat, kenapa kamu lakuin ini ke aku? kenapa kamu harus jujur kaya gini hah? KENAPA?” Ini tidak adil baginya, selama ini dina pikir hubungannya baik-baik saja, karena Deric tidak terlihat berubah dari sifat maupun sikapnya, semuanya terlihat manis dimata dina.. tapi ia salah, yang terlihat baik-baik saja belum tentu itu yang sebenarnya.

“Maafin aku din, tapi aku gak bisa lagi sama kamu.. aku gak bisa lagi selalu pura-pura depan kamu, maafin aku yang udah nyia-nyiain 10 tahun berharga kamu, aku harap kamu paham dan bisa nerima keputusan aku.. aku..”

Dina muak dengan ini semua, ia buru-buru bangkit dari duduknya, ia lalu berlari keluar rumah Deric, panggilan Deric pun tak ia indahkan, ia hanya fokus berlari, berlari sejauh mungkin, berusaha menghilangkan rasa sakit di dadanya dengan berlari. 'Apa katanya? perasaannya hilang tiba-tiba? yang benar saja? sangat tidak masuk akal', ia tidak habis pikir dengan apa yang terjadi padanya saat ini, mengapa tuhan mengambil satu-satunya harapan yang ia punya. Ia pikir 'Deric' lah satu-satunya keputusan terbaik yang pernah ia buat, kini ia hancur..

Dina berlari sampai lututnya terasa sakit, ia pun terjatuh dan melukai sikut dan juga lututnya. Namun rasa sakit di lutut dan sikut nya belum bisa mengalahkan rasa sakit di dadanya sekarang, dina kemudian bangkit dari jatuhnya, ia berusaha berjalan kembali dan berlari, sampai..

Tinnnnnn,, BRUAAKKK~

Dina merasakan dirinya yang melayang, kini ia juga merasakan tubuhnya yang seringan kapas, sedetik kemudian ia merasakan seluruh tubuhnya yang sakit, ia tersenyum melihat langit, setidaknya rasa sakit di tubuhnya dapat mengalahkan rasa sakit di hatinya.

Ini benar-benar tidak adil, setelah Tuhan merenggut harapannya.. apakah ia juga akan merenggut hidupnya.. seribu satu pertanyaan yang terlintas dikepalanya saat ini, namun hanya ada 1 pertanyaan yang ingin sekali ia dengar jawabannya..

'Jika bisa memutar waktu kembali, apakah ia boleh merubah takdir yang ada..?'

Perlahan kesadarannya pun memudar, semua tampak berbayang dimatanya, sampai semuanya pun gelap.

'Semuanya telah berakhir, kan?'


KILAS BALIK

Dina terbangun dan mendapati dirinya berada di 10 tahun sebelumnya, dimana seharusnya saat itu usianya baru 18 tahun. Aneh, ia ingat dengan jelas kalau ia mengalami kecelakaan, kenapa ia bisa muncul disini bukankah seharusnya dia berada di rumah sakit atau bisa juga.. di akhirat. Dan yang lebih anehnya lagi, saat ini ia tidak terlihat muda, ia tetap terlihat dina yang berusia 28 tahun. Sementara dirinya yang berumur 18 tahun tepat dihadapannya, dan sedang memastikan bahwa kejadian ini nyata.

Esoknya, ia baru menyadari bahwa ia datang dengan keadaan sebagai arwah dan tak kasat mata, karena semua orang tidak bisa melihatnya. Berhari-hari ia wisata masa lalu, melihat keluarga dan orang sekitarnya yang sehat dan bahagia. Ia juga ikut bahagia, walaupun ia tidak bisa menyentuh ataupun berbicara dengan mereka. Ada kalanya dina merasa sedih karena keadannya saat ini, namun ia mengerti.. bahwa kehidupannya telah berakhir di usia 28 tahun.

Dina berusaha menerima keadaannya yang sekarang, ia juga mengerti mengapa tuhan membawanya kesini, tuhan ingin memberikan dina kesempat untuk merubah segalanya, terutama tentang Deric.

Menjauhi Deric dari dirinya sedari awal adalah hal yang harus ia lakukan, ia sadar lukanya terlalu hebat untuk dirasakan, dina telah merelakan semua yang ia punya hanya untuk bersama Deric, sialnya ia harus menerima segala kekecewaan dari pria itu. Kali ini dina akan berusaha untuk merubah takdirnya.. oleh karena itu, ia melakukan berbagai cara agar dina masa muda tidak jatuh cinta kepada Deric, ia pikir 'Sebaiknya menjauh, daripada harus merasakan luka itu'.

Sampai saat-saat penting itu terjadi, di saat-saat harusnya jalinan kasih antara dirinya dan Deric dimulai, latihan PMR.. seharusnya saat itu Deric mulai jatuh hati pada dina, dan malam itu saat ulang tahun Deric, seharusnya itu moment penting untuk mereka, karena saat itulah awalnya mereka bisa dekat dan memahami diri masing-masing.

Dina berusaha mencari cara agar kejadian itu tidak terulang kepadanya, ia melakukan segala cara.. sampai ia menyentuh benda yang berada di lehernya, ia heran mengapa benda ini masih menggantung di lehernya, apakah benda ini yang akan membantunya untuk mengakhiri semua kisahnya bersama Deric?

Ia menukar isi kotak hadiah yang akan diberikan dina masa muda dengan benda itu, ia tau dina muda menyembunyikannya agar ia tidak tau, tapi ia tidak sengaja melihat nya saat dina muda menyembunyikan hadiah itu, setelah menukar isi kotak nya, tidak lupa dina menyelipkan sepucuk surat yang harus dibaca oleh Deric..

Untuk : Deric Dari : Dina, yang berusia 28 tahun.

Mungkin kamu tidak percaya dengan omonganku kali ini dan juga benda yang kamu lihat, benda itu milik ibumu yang kamu berikan untukku di hari jadi kita ke 8 tahun. Mungkin ini sulit dipercaya, tapi hanya ibumu yang dapat memastikannya.

Satu pintaku, jauhi hidupku sejauh yang kamu bisa, aku tidak pernah bahagia hidup bersama kamu, kamu merebut mimpiku dariku, kamu menghancurkan segalanya.. aku mohon, jangan pernah berpikir untuk mendekatiku sekarang, besok dan hari-hari berikutnya. Jalani hidupmu yang sekarang hanya dengan tanpa aku didalamnya.

Selamat tinggal, Deric.

Tulisnya, 'bohong!' yang ia tulis penuh kebohongan, nyatanya 10 tahun ini dina selalu bahagia bersama Deric, terpaksa ia tulis seperti itu semata-mata demi kebaikan bersama, 'Sebaiknya kita tidak pernah berhubungan sama sekali', pikirnya.

Seperti dugaannya, Deric memanglah Deric, Deric usia 20 tahun adalah Deric versi terbaik, ia melakukan hal yang dina minta, dina melihat tatapan sendu Deric, bukannya dina tak tahu kalo saat ini Deric juga sudah menyukai dina, maaf Deric.. memang sebaiknya seperti ini.

Ia berlari menyusul dina muda, dan mereka berdebat habis-habisan malam itu, setelah perdebatan hebat antara ia dan dirinya yang berusia 18 tahun, dina berjalan menjauhi bocah keras kepala itu, ia telah melakukan tugasnya, misinya pun telah usai. Untuknya, Deric bukan lagi bagian dari hidupnya lagi, dan ini akhir yang ia pilih.

Setelah berjalan tanpa arah, kini dina berdiri di sebuah halte bus, ia tidak tau harus kemana lagi setelah ini, ia khawatir nasibnya akan menjadi arwah gentayangan.. setidaknya tolong biarkan ia naik dan bereinkarnasi.

Beberapa saat setelah ia bergumul dengan pikirannya, dina melihat seseorang yang ia kenal di dalam bus, dina tersenyum.. itu adalah saingannya, orang yang juga menyukai Deric seperti dina yang menyukai Deric, mungkin ia lah orang yang akan membuat Deric bahagia selamanya. Dina terus tersenyum, walaupun nasibnya tidak tentu, tapi ia merasa lega, setelah tahu bahwa pria yang ia cintai selama ini, akan berada di dalam dekapan orang yang tepat

Dina berjalan menuju bus.. berniat untuk ikut masuk ke dalaamnya, tapi..

Brukkkkk~

Tubuhnya terhuyung ke belakang, pandangannya kabur, seluruh tubuhnya kesakitan, namun tidak ada yang menolongnya karna ia tembus pandang, 'Ada apalagi ini? apakah tuhan tidak senang karna dina berhasil merubah segalanya? apa tuhan menyesal atas keputusannya? ada apa tuhan?' sedetik kemudian pandangannya menjadi gelap.


KEMBALI ME MASA ITU

Tit.. tit.. tit..

Bunyi alat pendeteksi detak jantung, suara yang pertama kali ia dengar, matanya terasa berat, tidak bisa ia buka.. ingatannya memutari kepalanya, ia ingat hal yang terakhir ia lakukan adalah berdiri di halte bus sembari memandangi seseorang. Dina berusaha untuk menggerakan jari-jemarinya, tak lama ada suara yang berteriak..

“Dok? dokter dina? dok? ALHAMDULILLAH UDAH SADARRRR.. PANGGILIN DOKTER ILHAM CEPET!”

Setelah mendengar teriakan tersebut, kesadaran dina kembali hilang karna rasa kantuk yang dirasakannya. Bau obat-obatan yang ia hirup, diyakininya bahwa sekarang ia berada di rumah sakit.

'Apa ini? dia tidak jadi mati? dan apa barusan ia dipanggil dokter dina? apakah dunianya sungguh sudah berubah?'

Next : Extra Part . .

Hari ini adalah hari jadi hubungan dina dan Deric yang ke-10 tahun, tak terasa hubungan mereka sudah berjalan sejauh ini, baginya.. waktu 10 tahun adalah hal yang paling berharga, kebersamaannya dengan Deric adalah prioritas utamanya saat ini. Selama 10 tahun ini ia hanya fokus kepada Deric, impiannya saat berusia 18 tahun telah ia lupakan, walaupun sedih.. namun ia telah menerimanya, kini ia harus puas dengan dirinya yang menjadi guru les kimia. Suka duka dalam hubungannya bersama Deric telah ia lewati, persiapan menuju ke jenjang selanjutnya pun sudah mereka persiapkan. Saat ini dina sedang menuju rumah Deric, sudah 3 tahun belakangan, Deric hidup mandiri, niatnya hari ini dina ingin memasakan makanan kesukaan deric, spaghetti bolognese.


Sesampainya di rumah Deric, dina terkejut mendapati Deric yang sedang berdiri di ruang keluarga. “Sayang, tumben kamu gak kerja?” ucap dina menghampiri Deric, seraya mengusap bahu kekasihnya itu.

Deric melepaskan tangan dina dari bahu nya. “Duduk, aku mau bicara din.” ucap Deric serius. Dina tau ada yang tidak beres dengan kekasihnya ini, dilihatnya wajah pria itu yang lusuh. “Ada apa hm?” ucap dina yang kini telah mendudukan dirinya di sofa.

“Aku mau kita batalin semuanya din..” ucap Deric, dina menatap Deric tidak percaya. “Kamu ngomong apaansi? gajelas banget.. gak asik ah bercandanya, aku mau ke dapur aja yaa..”

“Aku gak bahagia hidup sama kamu din..” ucap Deric sebelum dina bangkit dari duduknya. Dina menahan nafasnya. Ditatapnya sang kekasih lekat-lekat.

“Maksud kamu apa deh? kok tiba-tiba banget ngomong gini?” jawab dina masih menganggap bahwa pria dihadapannya ini sedang melakukan hal konyol.

“Aku pikir, dengan keputusan kita untuk menikah bakal ngembaliin perasaan aku seperti dulu, saat aku cinta sama kamu, tapi aku salah, perasan itu gabisa balik lagi din, aku minta maaf sama kamu.. aku juga gak tau kenapa tiba-tiba perasaan aku hilang untuk kamu, yang aku rasa sekarang adalah kehampaan, jujur.. aku udah gak rasain perasaan itu lagi ke kamu.” ucap Deric dengan wajah frustasi.

“Kamu.. kamu serius?” tanya dina dengan air mata yang mulai menyusuri pipinya. Pria itu menganggukan kepalanya perlahan. Dina mengepalkan tangannya, lalu memukul dada pria di depannya ini, dina memukulnya berkali-kali diiringi oleh tangisannya.

“Jahat, kenapa kamu lakuin ini ke aku? kenapa kamu harus jujur kaya gini hah? KENAPA?” Ini tidak adil baginya, selama ini dina pikir hubungannya baik-baik saja, karena Deric tidak terlihat berubah dari sifat maupun sikapnya, semuanya terlihat manis dimata dina.. tapi ia salah, yang terlihat baik-baik saja belum tentu itu yang sebenarnya.

“Maafin aku din, tapi aku gak bisa lagi sama kamu.. aku gak bisa lagi selalu pura-pura depan kamu, maafin aku yang udah nyia-nyiain 10 tahun berharga kamu, aku harap kamu paham dan bisa nerima keputusan aku.. aku..”

Dina muak dengan ini semua, ia buru-buru bangkit dari duduknya, ia lalu berlari keluar rumah Deric, panggilan Deric pun tak ia indahkan, ia hanya fokus berlari, berlari sejauh mungkin, berusaha menghilangkan rasa sakit di dadanya dengan berlari. 'Apa katanya? perasaannya hilang tiba-tiba? yang benar saja? sangat tidak masuk akal', ia tidak habis pikir dengan apa yang terjadi padanya saat ini, mengapa tuhan mengambil satu-satunya harapan yang ia punya. Ia pikir 'Deric' lah satu-satunya keputusan terbaik yang pernah ia buat, kini ia hancur..

Dina berlari sampai lututnya terasa sakit, ia pun terjatuh dan melukai sikut dan juga lututnya. Namun rasa sakit di lutut dan sikut nya belum bisa mengalahkan rasa sakit di dadanya sekarang, dina kemudian bangkit dari jatuhnya, ia berusaha berjalan kembali dan berlari, sampai..

Tinnnnnn,, BRUAAKKK~

Dina merasakan dirinya yang melayang, kini ia juga merasakan tubuhnya yang seringan kapas, sedetik kemudian ia merasakan seluruh tubuhnya yang sakit, ia tersenyum melihat langit, setidaknya rasa sakit di tubuhnya dapat mengalahkan rasa sakit di hatinya.

Ini benar-benar tidak adil, setelah Tuhan merenggut harapannya.. apakah ia juga akan merenggut hidupnya.. seribu satu pertanyaan yang terlintas dikepalanya saat ini, namun hanya ada 1 pertanyaan yang ingin sekali ia dengar jawabannya..

'Jika bisa memutar waktu kembali, apakah ia boleh merubah takdir yang ada..?'

Perlahan kesadarannya pun memudar, semua tampak berbayang dimatanya, sampai semuanya pun gelap.

'Semuanya telah berakhir, kan?'


KILAS BALIK

Dina terbangun dan mendapati dirinya berada di 10 tahun sebelumnya, dimana seharusnya saat itu usianya baru 18 tahun. Aneh, ia ingat dengan jelas kalau ia mengalami kecelakaan, kenapa ia bisa muncul disini bukankah seharusnya dia berada di rumah sakit atau bisa juga.. di akhirat. Dan yang lebih anehnya lagi, saat ini ia tidak terlihat muda, ia tetap terlihat dina yang berusia 28 tahun. Sementara dirinya yang berumur 18 tahun tepat dihadapannya, dan sedang memastikan bahwa kejadian ini nyata.

Esoknya, ia baru menyadari bahwa ia datang dengan keadaan sebagai arwah dan tak kasat mata, karena semua orang tidak bisa melihatnya. Berhari-hari ia wisata masa lalu, melihat keluarga dan orang sekitarnya yang sehat dan bahagia. Ia juga ikut bahagia, walaupun ia tidak bisa menyentuh ataupun berbicara dengan mereka. Ada kalanya dina merasa sedih karena keadannya saat ini, namun ia mengerti.. bahwa kehidupannya telah berakhir di usia 28 tahun.

Dina berusaha menerima keadaannya yang sekarang, ia juga mengerti mengapa tuhan membawanya kesini, tuhan ingin memberikan dina kesempat untuk merubah segalanya, terutama tentang Deric.

Menjauhi Deric dari dirinya sedari awal adalah hal yang harus ia lakukan, ia sadar lukanya terlalu hebat untuk dirasakan, dina telah merelakan semua yang ia punya hanya untuk bersama Deric, sialnya ia harus menerima segala kekecewaan dari pria itu. Kali ini dina akan berusaha untuk merubah takdirnya.. oleh karena itu, ia melakukan berbagai cara agar dina masa muda tidak jatuh cinta kepada Deric, ia pikir 'Sebaiknya menjauh, daripada harus merasakan luka itu'.

Sampai saat-saat penting itu terjadi, di saat-saat harusnya jalinan kasih antara dirinya dan Deric dimulai, latihan PMR.. seharusnya saat itu Deric mulai jatuh hati pada dina, dan malam itu saat ulang tahun Deric, seharusnya itu moment penting untuk mereka, karena saat itulah awalnya mereka bisa dekat dan memahami diri masing-masing.

Dina berusaha mencari cara agar kejadian itu tidak terulang kepadanya, ia melakukan segala cara.. sampai ia menyentuh benda yang berada di lehernya, ia heran mengapa benda ini masih menggantung di lehernya, apakah benda ini yang akan membantunya untuk mengakhiri semua kisahnya bersama Deric?

Ia menukar isi kotak hadiah yang akan diberikan dina masa muda dengan benda itu, ia tau dina muda menyembunyikannya agar ia tidak tau, tapi ia tidak sengaja melihat nya saat dina muda menyembunyikan hadiah itu, setelah menukar isi kotak nya, tidak lupa dina menyelipkan sepucuk surat yang harus dibaca oleh Deric..

Untuk : Deric Dari : Dina, yang berusia 28 tahun.

Mungkin kamu tidak percaya dengan omonganku kali ini dan juga benda yang kamu lihat, benda itu milik ibumu yang kamu berikan untukku di hari jadi kita ke 8 tahun. Mungkin ini sulit dipercaya, tapi hanya ibumu yang dapat memastikannya.

Satu pintaku, jauhi hidupku sejauh yang kamu bisa, aku tidak pernah bahagia hidup bersama kamu, kamu merebut mimpiku dariku, kamu menghancurkan segalanya.. aku mohon, jangan pernah berpikir untuk mendekatiku sekarang, besok dan hari-hari berikutnya. Jalani hidupmu yang sekarang hanya dengan tanpa aku didalamnya.

Selamat tinggal, Deric.

Tulisnya, 'bohong!' yang ia tulis penuh kebohongan, nyatanya 10 tahun ini dina selalu bahagia bersama Deric, terpaksa ia tulis seperti itu semata-mata demi kebaikan bersama, 'Sebaiknya kita tidak pernah berhubungan sama sekali', pikirnya.

Seperti dugaannya, Deric memanglah Deric, Deric usia 20 tahun adalah Deric versi terbaik, ia melakukan hal yang dina minta, dina melihat tatapan sendu Deric, bukannya dina tak tahu kalo saat ini Deric juga sudah menyukai dina, maaf Deric.. memang sebaiknya seperti ini.

Ia berlari menyusul dina muda, dan mereka berdebat habis-habisan malam itu, setelah perdebatan hebat antara ia dan dirinya yang berusia 18 tahun, dina berjalan menjauhi bocah keras kepala itu, ia telah melakukan tugasnya, misinya pun telah usai. Untuknya, Deric bukan lagi bagian dari hidupnya lagi, dan ini akhir yang ia pilih.

Setelah berjalan tanpa arah, kini dina berdiri di sebuah halte bus, ia tidak tau harus kemana lagi setelah ini, ia khawatir nasibnya akan menjadi arwah gentayangan.. setidaknya tolong biarkan ia naik dan bereinkarnasi.

Beberapa saat setelah ia bergumul dengan pikirannya, dina melihat seseorang yang ia kenal di dalam bus, dina tersenyum.. itu adalah saingannya, orang yang juga menyukai Deric seperti dina yang menyukai Deric, mungkin ia lah orang yang akan membuat Deric bahagia selamanya. Dina terus tersenyum, walaupun nasibnya tidak tentu, tapi ia merasa lega, setelah tahu bahwa pria yang ia cintai selama ini, akan berada di dalam dekapan orang yang tepat

Dina berjalan menuju bus.. berniat untuk ikut masuk ke dalaamnya, tapi..

Brukkkkk~

Tubuhnya terhuyung ke belakang, pandangannya kabur, seluruh tubuhnya kesakitan, namun tidak ada yang menolongnya karna ia tembus pandang, 'Ada apalagi ini? apakah tuhan tidak senang karna dina berhasil merubah segalanya? apa tuhan menyesal atas keputusannya? ada apa tuhan?' sedetik kemudian pandangannya menjadi gelap.


KEMBALI ME MASA ITU

Tit.. tit.. tit..

Bunyi alat pendeteksi detak jantung, suara yang pertama kali ia dengar, matanya terasa berat, tidak bisa ia buka.. ingatannya memutari kepalanya, ia ingat hal yang terakhir ia lakukan adalah berdiri di halte bus sembari memandangi seseorang. Dina berusaha untuk menggerakan jari-jemarinya, tak lama ada suara yang berteriak..

“Dok? dokter dina? dok? ALHAMDULILLAH UDAH SADARRRR.. PANGGILIN DOKTER ILHAM CEPET!”

Setelah mendengar teriakan tersebut, kesadaran dina kembali hilang karna rasa kantuk yang dirasakannya. Bau obat-obatan yang ia hirup, diyakininya bahwa sekarang ia berada di rumah sakit.

'Apa ini? dia tidak jadi mati? dan apa barusan ia dipanggil dokter dina? apakah dunianya sungguh sudah berubah?'

Next : Extra Part . .

Siang itu dina muda sibuk mengitari 1 mall di kota nya, ia keliling-keliling untuk mencari hadiah ulang tahun Deric. 'Kira-kira hadiah apa yang cocok untuk kak Deric yaa hmm' pikirnya dalam hati. Setelah selesai dengan pikirannya, ia mendapati 1 toko jam tangan, ia langsung melenggangkan kakinya untuk masuk dan melihat-lihat.

“Hmm ini bagus.. mbak bungkus yang ini satu yaa, oiya.. boleh titip note sekalian mbak? makasih!” ucap dina muda sembari menjunjuk jam tangan hitam pria, mbak penjaga toko lalu memberikan secarik kertas dan pulpen, kemudian dina muda menuliskan ucapan 'happy birthday untuk kak Deric' lalu menyelipkan kartu ucapan tersebut di dalam kotak jam tangan itu.

Setelah selesai dengan hadiah ulang tahun, ia buru-buru pulang ke rumah untuk menyembunyikan hadiah tersebut dari dina tua, takut-takut hadiah tersebut di ketahuinya, bisa-bisa hadiah ini dia ambil atau bahkan dia buang.

D-day – Deric Birthday Party

Seharian ini dina muda mematut dirinya di depan cermin, takut jika wajahnya tiba-tiba ditumbuhi jerawat rindu huhu. Malam ini adalah malamnya, malam dimana ia bisa menampakkan dirinya di depan pria yang ia sukai. 'Byutifullllll' pujinya pada diri sendiri.

Setelah lelah berkaca, dina muda menyadari bahwa sedari pagi dina tua tidak menampakkan dirinya, 'Dia gak cape apa yaa keliling komplek tiap hari, padahal gak ada yang berubah juga.'

TEMPAT ACARA

Dina muda berdiri di depan kaca mobil orang lain, kembali ia cek riasannya, apakah ada cabai di giginya atau ada bulu hidung yang menjuntai keluar, jika iya.. dia bisa mati berdiri karena malu. Diambilnya kotak hadiah berisi jam tangan yang ia beli waktu itu, dina muda mulai memasuki tempat acara. 'Ramai'.. kata pertama yang ia keluhkan dalam hati. Namun, belum sempat fokus mengeluh, ia sudah melihat sang pemilik acara.. 'Ganteng banget ya allahhhhhh!” Malam ini kak Deric memakai pakaian santai namun terlihat berkelas, ditambah kacamata unyue nya yang membuat ia terlihat lucu namun juga sexy. Dina muda lalu menghampiri pria tersebut.

“Kak Deric! selamat ulang tahun yaa hehehe.. semoga suka hadiah nyaa!” ucap dina muda setelah berada di hadapan Deric seraya memberikan kotak hadiah yang telah ia siapkan. Deric tersenyum menyambut hadiah yang diberikan dina muda, “Makasih din, repot-repot segala.” Deric tersenyum memandangi kotak pemberian dina, “Buka aja kak kalo penasaran hehe.” ucap dina dibarengi cengiran khas nya, dina muda tampak gugup, baru kali ini ia memberikan hadiah kepada pria, terlebih pria ini adalah orang yang ia sukai.

“Asik, gue buka yaa din..” Deric bersiap membuka kotak tersebut, tapi..

“Der, ibu lo manggil noh..!” terdengar suara dari lantai atas, sontak Deric mengalihkan pandangannya. “Emm, din.. gue ke atas dulu yaa, hadiahnya gue buka nanti, ibu gue manggil.. btw, thanks hadiahnya, dan... kedatangannya.” ucap Deric sambil tersenyum, sesaat setelahnya ia pergi ke tempat ibu nya berada.

Deric di dalam ruangan bersama ibunya

“Udah semua der?” tanya ibunya deric. “Udah kok bu.” jawab Deric santai sambil melihat kotak yang ia bawa. “Apa itu der? hadiah dari temanmu? buka dong, ibu kepo!” Deric tersenyum ke ibunya, ia menggangguk menandakan ia setuju dengan kemauan ibunya. Perlahan ia buka kotak itu, dilihatnya isi kotak tersebut..

“Der...... itukan.....” ucap ibunya Deric sambil menunjuk barang tersebut. Deric membaca secarik kertas yang ada di dalamnya, ia bingung.

Tempat acara lantai bawah

Sebentar lagi menuju acara puncak, namun kak Deric belum juga terlihat, 'Apa ada masalah yaa sama ibunya' tanya dina muda dalam hati. Sesaat setelah ia tenggelam dalam pikirannya, dilihatnya sosok tersebut, sosok itu berjalan ke arahnya, tapi apa itu? wajahnya terlihat pucat dan....

“Pergi dari sini, dan gue harap kita gak akan ketemu lagi.” ucap Deric sembari mengembalikan kotak pemberian dina muda. 'Marah' itu ekspresi yang dilihatnya dari wajah kak Deric. Dina muda sangat terkejut 'Ada apa ini' sekarang semua tamu undangan melirik pada dina muda, ia sangat malu dan kecewa. 'Apa-apaan pria ini, gak sopan!'

“Kak, ada apa? kok tiba-tiba kaya gini.. aku ada salah?” tanya dina berusaha menahan air matanya. “Gak ada, gue cuma gamau lagi liat lo disini, pergi!” jawab Deric dengan jari telunjuknya menunjukkan arah pintu keluar. Dina muda sangat kecewa atas perlakuan Deric, ia menggenggam erat kotak hadiah yang Deric kembalikan, dina muda berlari keluar. Ia berlari sembari menahan air mata, setelah dirasa cukup jauh ia berlari, dina muda menduduki dirinya di trotoar, ia nangis sejadi-jadinya, ia bingung dengan apa yang terjadi.

Tak lama, ada seseorang yang menepuk pundaknya. Dina muda kaget, takut jika itu orang cabul, diliriknya orang tersebut.. ternyata dia lagi, yaa dina tua. Tunggu.. apa yang ia lakukan disini. Dina muda mulai curiga, di ambilnya kotak hadiah yang tadinya ia berikan untuk kak Deric, dibukanya kotak tersebut.. betapa kagetnya dina muda melihat isi kotak itu.

“KALUNG?” ucap dina muda penuh emosi. “LO YANG NUKER HADIAH GUE SAMA KALUNG INI HAH? MAKSUD LO APA?” tanya dina muda menggebu-gebu, nafasnya tak menentu karna di selimuti oleh emosi.

“Iya, saya yang nuker.. kamu keras kepala din, saya minta kamu buat gak deket-deket Deric, kamu malah nekat datengin rumahnya..”

Dina muda sudah tidak sanggup lagi menahan emosinya, “HAK LO APA SIH LARANG-LARANG GUE BUAT GAK DEKET SAMA ORANG YANG GUE SUKA? HAK LO APA? GUE PERCAYA LO DARI MASA DEPAN, GUE TERIMAKASIH LO BANTUIN GUE SELAMA INI, GUE TERIMAKASIH BANGET.. TAPI LO GAK HARUS KAN KAYA BEGINI?” bentak dina muda di depan wajah dina tua, air matanya kian menggenang di pelupuk mata, emosinya sudah diubun-ubun.

“Din, niat saya baik.. ini untuk kebaikan diri kamu sendiri, kebaikan kita.” balas dina tua berusaha sesabar mungkin.

“WHO HURT YOU, LO YAKIN INI UNTUK KEBAIKAN KITA HAH? KENAPA LO HANCURIN HIDUP GUE, IKUT CAMPUR URUSAN GUE, LO DARI MASA DEPAN, URUSIN AJA URUSAN LO SENDIRI, BISA KAN? ADA MASALAH APA SIH LO SEBENERNYA!?” lagi-lagi bentak dina muda, kini bentakkannya sudah kelewatan, dina tua sudah tidak dapat membendung emosi yang ditahannya.

“ELO YANG BERMASALAH, LO YANG BIKIN MASALAH, LO JUGA YANG HANCURIN HIDUP GUE DIN!” teriak dina tua, mengabaikan formalitas dalam ucapannya kali ini, menandakan bahwa ia sangat emosi. Tangisnya pecah.. emosi yang selama ini ia pendam kini ia keluarkan, gadis itu mengadahkan kepalanya keatas langit, tepat saja.. langit juga ikut menitihkan air mata, di suasana yang emosional itu, terdapat dua orang yang saling berhadapan dengan diiringi oleh gerimis sendu.

“Gue? kenapa jadi gue? jelas lo yang..” jawab dina muda.

“IYA ELO! Lo mikir gak sih? kenapa gue masih disini? MIKIR GAK LO? Kenapa gue repot banget ngikutin lo kemana-mana, cuman buat mastiin kalo lo gak ngulangin kesalahan yang sama.” potong dina tua, ia mununjuk-nunjuk dina muda.

“Lo mikir gak kenapa gue bisa ada disini? ITU KARENA LO YANG BERMASALAH, MASALAH YANG LO BUAT ITU MENGHANCURKAN DIRI LO SENDIRI 10 TAHUN KEDEPAN. KARENA LO YANG NAIF, KARENA LO YANG LUGU, KARENA LO YANG KEPALA BATU!” dina muda ikut menangis karna bentakkan tersebut, ia bingung.. sebenarnya apa masalah yang telah ia buat sampai-sampai dirinya di masa depan sampai sebegininya.

“Awalnya gue kira Deric yang ngancurin harapan dan hidup gue, tapi gue sadar.. setelah liat lo sekarang, ternyata diri gue sendiri yang bego!” ucap dina tua sembari mengusap wajahnya yang dipenuhi air mata dan juga air hujan, nafasnya pun terengah.

“Sesuka, secinta dan sesayang apapun Deric saat ini ke lo, lo gak tau gimana Deric 10 tahun kedepan, LO GATAU DIN! lo gatau...” tangis dina tua semakin pecah, isak tangisnya membuat dina muda sangat kecewa dengan dirinya sendiri, ia seperti paham dengan apa yang dirasakan dina tua, perasaan tersebut ikut dirasakannya.

“Setelah lihat reaksi Deric, gue rasa tugas gue disini udah selesai..” ucap dina sembari membersihkan sisa air mata di wajahnya, ia tersenyum ke arah gadis di depannya. “Lebih baik lo patah hati sekarang din, daripada nanti.. karena nanti itu bukan cuma perasaan lo aja yang hancur, tapi semua yang lo punya pun akan ikut hancur! Gue gak nyesel udah hancurin harapan lo untuk Deric, sekarang gue udah tenang kalo kenyataannya lo gak bakal sama Deric, tolong jalani hidup lo dengan baik, raih cita-cita lo, jangan pernah menyerah atas mimpi lo untuk jadi dokter, cuma itu satu-satunya harapan dan mimpi yang harus lo gapai, semoga lo bisa mewujudkan mimpi kita din.. gue minta maaf atas segalanya, sekarang.. gue pamit!” ucap dina tua seraya membalikkan badan dan berjalan menjauhi dirinya yang berusia 18 tahun itu.

Dina muda hanya melihat punggung wanita tersebut, hatinya mencelos merasakan duka lara yang mungkin dirasakan dirinya diumur 28 tahun itu.

'Ada apa dengan dirinya 10 tahun kedepan, hal apa yang membawanya sampai kesini?' Pikirnya yang masih menatap punggung wanita itu yang semakin menjauh dan kini menghilang dari pandangannya.

Namun, bagaimanapun.. ia percaya dengan petuah wanita itu, memang benar, selain Deric, harapannya adalah menjadi dokter, tepatnya dokter gigi. Kini ia sadar, masih banyak hal-hal yang perlu ia lakukkan. Ia ikut membalikkan badannya dan berjalan pulang.

Entah apa yang terjadi pada dirinya 10 tahun kemudian, yang dina ingin lakukan sekarang adalah mewujudkan mimpinya, untuk 10 tahun kedepan biarlah ia serahkan kepada dirinya yang berusia 28 tahun, kini dina muda menyerah dengan perasaannya atas Deric, fokusnya kali ini adalah belajar dan belajar.. belajar untuk mewujudkan impiannya dan belajar menjadi orang yang lebih baik lagi.

'People come and go, and some people should be forgotten on this journey.. and I choose to forget everything about you, kak Deric.'

'and, to my otherself, you and I are not that much different, we've been hurt and can only become stronger.. whatever happens to you, i hope you will be more stronger.'

Next : Epilog . .

Dina tua memasuki rumahnya, ia lelah setelah berkeliling lingkungan rumah itu, melihat para tetangga nya dulu sebelum banyak yang pindah dari komplek tersebut. Tepat di depan kamarnya, ia mencium bau yang menyengat.. 'Bau apa ini?' tanya dina tua dalam hati, ia mencium ketiak nya, asem. Tapi bukan bau ketiak nya, wanginya sangat ia kenal. Buru-buru ia membuka pintu kamar, ia khawatir sesuatu terjadi pada dina muda.

Sreekkk~

Dina tua melihat ke lantai, banyak sekali garam kasar bertaburan, dilihatnya dina muda yang sedang berduduk sila sembari mulutnya berkomat-kamit, 'Astaga'.. bau yang tadi ia cium adalah bau kemenyan, ia tahu setelah melihat dina muda yang sedang menaburkannya ke dalam bara api. 'Bocah gila!' ucap dina tua dalam hati.

“Kamu ngapain sih din? pake baju hogwarts school tapi gayanya kaya dukun boyolali?” tanya dina tua sambil menyingkirkan garam dari lantai.

Dina muda kaget melihat dina tua yang dengan santainya menyingkirkan garam yang susah payah ia beli dan ia tebar. “KOK LO BISA NGINJEK? BUKANNYA HARUSNYA KAKI LO KEBAKAR YA? TERIAK LAH SEENGGAKNYA..” tanya dina muda yang buru-buru bangun dari duduknya.

“Din...” ucap dina tua menahan sabar. “Saya bukan hantu kaya di film-film, walaupun saya arwah, saya juga gak bisa liat arwah-arwah lain disekitar sini.. lagian juga, kalo kamu kaya gini bukannya ngusir, tapi malah ngundang deh kayanya!” ucap dina tua, seketika wajah dina muda berubah pucat, ia tak terpikirkan hal itu, yang ia pikirkan sekarang ialah bagaimana caranya mengusir dina tua, agar ia bisa mendekati kak Deric dengan leluasa.

“Huftt..” dina muda menghela nafas, ia lalu menyingkirkan semua alat perdukunannya. Ia menjatuhkan badannya di atas kasur, sesaat kemudian ia teringat kalau hari ini adalah jadwalnya untuk latihan PMR, yang mana ia bisa bertemu dengan pujaan hatinya. Dilihatnya dina tua yang sedang asik membaca buku, ia akan pergi diam-diam agar tidak dibuntuti oleh dina tua.

1 JAM KEMUDIAN

Kini dina muda sedang berada di ruang latihan ekskul PMR sekolahnya, ekskul ini di pimpin langsung oleh alumni sekaligus seniornya, siapa lagi kalau bukan kak Deric. Senyum dina muda merekah seraya dilihatnya sang pujaan hati yang sedang mempraktekan teknik CPR kepada para juniornya, senyumnya semakin lebar ketika tatapan matanya bertubrukan dengan pria itu. Deg deg deg~ bunyi jantung dina muda yang memburu.

“Sekarang gue mau salah satu dari kalian praktekin teknik yang barusan gue contohin.” ucap Deric yang menelusuri pandangannya untuk mencari seseorang yang akan mempraktekan teknik yang barusan ia contohkan.

“Lo.. dina kan? mau coba praktekin? daritadi lo merhatiin gue mulu soalnya.” tunjuk Deric. Dina muda kaget, kenapa tiba-tiba dirinya yang ditunjukk, jantungnya sudah tidak karuan, senyumnya tak bisa ia tahan, 'Inilah saatnya hahahahaha..' ucap dina muda dalam hati. Dina muda segera bangkit dari duduknya, bersiap untuk berjalan ke arah Deric, namun..

Seetttttt~ bug!

Sesaat sebelum melangkah, tangannya ditarik dan ia kembali di DUDUKAN. Ia melihat kesebelahnya, 'WHAT!? NGAPAIN LO DISINI' tatapan mata mereka bertemu. “Jangan maju, tolak.. bilang kalo kamu mau kebelakang.” ucap dina tua yang masih menahan tangan dina muda. 'Sinting!' ucap dina muda memberikan tatapan tidak percaya, ia heran, bagaimana bisa dina tua menemukannya, padahal ia tidak pernah memberitahu jadwal latihan PMR nya. Oiya, dina tua adalah dirinya juga, pastinya ia sudah tau kegiatan-kegiatan yang ia lakukan. Hhhhh~ dina muda menghelakan nafasnya, mau bagaimana lagi, ia telah melakukan kesepakatan itu dengan dina tua, ia baru menyesalinya sekarang huhu.

“Maaf kak, saya kurang ngerti teknik tersebut. Saya juga izin ke kamar mandi ya kak, permisi.” setelah izin, dina muda langsung keluar ruang latihan dengan wajah cemberutnya, dina muda berjalan menjauhi ruangan itu. Ia menoleh ke belakang, dilihatnya dina tua yang sedang bersender di tembok sambil memperhatikannya.

“Ganggu aja deh, nyebelin banget!” ucapnya pelan, namun dina tua dapat mendengarnya. Dina tua lalu tersenyum sambil menghampiri dina muda, “pulang aja yuk, bentar lagi doraemon mau tayang!” ditariknya tangan dina muda. Namun, belum sempat mereka jalan..

“Dina!” seseorang memanggil, dua wanita itu sama-sama menoleh, dan kini keduanya sama-sama terkejut. Dina muda buru-buru melepaskan tangan dina tua dari tangannya.

“Hai kak Deric, ada apa?” jawab dina muda yang berjalan perlahan menuju tempat seniornya itu berdiri.

“Dateng yaa minggu depan, semua anggota udah gue undang, ini lo yang terakhir..” ucap Deric sembari memberikan undangan ulang tahunnya, “tadi pengen gue kasih setelah praktek CPR, eh lo nya gak balik-balik, untung ketemu disini.” dina muda melihat undangan tersebut, lalu pandangannya berpindah ke wajah pria dihadapannya, yang terlihat sedang menyunggingkan senyuman tipisnya.

“Din, bilang kamu sibuk dan gak bisa dateng.” ucap dina tua sambil menghalangi tubuh Deric dari pandangan dina muda. Dina muda gugup, ia bingung apa yang harus ia lakukan. Dengan tergesa, ia lalu mengambil undangan tersebut. “Makasih kak Deric, udah undang saya.. saya pasti dateng kok hehe, kalo gitu saya pamit dulu yaa, dadahh!” ucap dina muda yang kemudian berlari, dina tua menghela nafasnya pasrah, ia lalu menyusul langkah dina muda.. “Lo denger kan tadi, dan gue gak akan narik ucapan gue, BYE!” ucap dina muda yang kini melajukan langkah kakinya meninggalkan dina tua. Dina tua yang tulangnya sudah kian keropos tidak sanggup mengejarnya.

“Dasar kepala batu!” ucap dina tua di sela-sela helaan nafasnya. Ia menghentikan langkah kakinya untuk mengatur nafas, ia tidak sengaja menoleh ke belakang, dan dilihatnya Deric yang masih berdiri di tempat semula.. yaa, ia sedang memperhatikan dina muda yang sedang berlari. “Don't you dare..” ucap dina tua, yang masih melihat ke arah Deric dengan tatapan tajamnya. “She's so funny!” ucap Deric sambil tersenyum lalu meninggalkan tempat tersebut.

“Shit.......” ucap dina tua sambil mengepalkan kedua tangannya menahan emosi. Ia menghelakan nafasnya perlahan. 'it's time to stop, din!' ucapnya pelan, yang kemudian ia melangkahkan kakinya untuk kembali kerumah.

Next : Part O4 . .

1 hari berlalu sejak kejadian aneh yang dihadapi dina muda. Ia benar-benar tidak percaya dengan kejadian tersebut, 'kok dia bisa tau kalo gue naksir kak Deric, padahal naksirnya aja baru kemarin lusa'. Tapi bagaimanapun ia mencoba untuk tidak percaya, tapi dina tua berhasil membuktikan semuanya, dan membuat dirinya terpaksa untuk percaya hal tersebut. 'Ada apa dengan dunia ini, jaman semakin edan!' pikirnya dalam hati seraya mengehela nafas pasrah.

Saat ini dina muda sedang berada di kelasnya, bersiap untuk mengikuti ujian bahasa inggris. Namun, pandangannya teralihkan oleh sesosok wanita di depan ruang kelasnya, 'ngapain dia disini' ia menyernyitkan dahinya seraya melihat sekeliling, tampak biasa saja, tak ada yang merasa terganggu oleh kehadiran sosok tersebut, padahal sosok itu tampak mencolok diantara para siswa lainnya, 'kok yang lain pada biasa aja liat orang asing masuk kelas?' sosok Itu adalah dina tua. Mengerti dengan isi kepala dina muda, dina tua berjalan mendekati meja tempat dina muda duduk.

“Yang lain gak bisa liat saya, cuma kamu yang bisa lihat saya.” ucap dina tua sambil tersenyum. Dina muda terkejut, seketika bulu-bulu halus ditubuhnya berdiri menandakan kalau ia sedang merinding, 'berarti dina tua ini seperti roh halus kan yaa? arwah gentayangan gitu?' dan anehnya, kenapa hanya dina muda yang bisa melihat dia. Belum selesai dengan keterkejutannya, guru kimia datang dan langsung membagikan soal ujian untuk hari itu.

Tunggu dulu..

Dina muda mencoba memahami situasi..

'Guru kimia...?'

KIMIA????

SEKARANG UJIAN KIMIA? BUKAN BAHASA INGGRIS????????

Dina muda menenggelamkan wajahnya di atas meja, ia menjedot-jedotkan dahinya ke meja tempat ia duduk, pasalnya, semalaman suntuk ia belajar bahasa inggris, bukan kimia.. tapi ternyata ia salah jadwal T-T. Dilihatnya soal-soal jahanam tersebut, bagaimana caranya ia menyelesaikan ini semua, sementara otaknya kosong melompong. Tidak ada satupun cara penyelesaian persamaan helmholtz di otaknya detik ini, yang ada hanyalah rumus 16 tenses, haruskah ia memasukan angka-angka ini ke rumus tenses? Dina muda semakin menyernyitkan dahinya, ia ingin pulang ke rumah dan menangis sepuasnya.


Tidak terasa 1 jam telah berlalu, waktu ujian pun hanya tersisa 30 menit lagi, tapi lembar jawaban dina muda masih super bersih, tidak ada coretan sedikitpun, itu karna ia fokus mencoret-coret lembar soal, ia baru menjawab 1 soal itupun belum tentu benar. Dina tua mendekati meja dina muda, yang semula ia duduk di kursi paling belakang yang kosong, sembari memandangi halaman sekolahnya. Ia paham betul apa yang sedang terjadi pada dina muda.

“Saya bisa bantu kamu kerjain ini semua..” ucap dina tua kepada dina muda sesampainya di samping tempat dina muda duduk.

“SERIUS???! bisiknya sambil melirik, berusaha bersikap normal, karna takut dikira aneh bicara sendiri oleh teman-temannya.

“Tapi sebagai gantinya, saya mau kamu lakuin sesuatu..!” jawab dina tua.

Lirik dina muda, memberikan isyarat kata 'Apa?', lalu dina tua menjawab.

“Jauhi Deric, buang perasaan kamu untuk dia. Deal?”

“WHAT????” teriak dina muda, sontak membuat seisi ruangan menoleh padanya. Guru kimianya melototi dina muda sembari memberi isyarat untuk diam dan fokus melanjutkan ujian.

Waktu ujian tersisa 20 menit lagi, dina tua masih berdiri disamping dina muda yang sedang bertarung dengan pikirannya. 'UDAH GILA NI MAHKLUK, MASA GUE BELOM MULAI APA-APA, UDAH DISURUH MUNDUR AJA?' ucapnya dalam hati, namun.. 'tapi gimana dong, gue harus selesaikan ujian ini huhuhu..'

Tidak ada cara lain lagi, dina muda melirik sebelahnya, menganggukan kepalanya perlahan, menandakan ia setuju dengan kesepakatan tersebut, walaupun ia terpaksa. Menurut dina muda, setidaknya untuk saat ini ujiannya lah yang harus ditolong. Tanpa babibu, dina tua lalu memberitahu semua jawaban dari soal-soal kimia tersebut, sebelumnya ia sudah mengerjakan soal tersebut di belakang. Bagi dina tua, soal-soal ini hanyalah kacang, ia jelas tau kalau dina muda akan melakukan kesalahan hari ini, makanya ia sengaja mendatangi dina muda dan melakukan kesepakatan tersebut. Tidak sampai 10 menit, lembar jawaban dina muda sudah terisi penuh, beberapa siswa pun sudah meninggalkan ruangan ujian, diikuti oleh dina muda yang tampak khawatir dengan jawaban soalnya. 'Awas aja kalo salah semua' ucapnya dalam hati seraya memelototi dina tua yang telah keluar kelas lebih dulu.

Dina muda bingung, sebenarnya ada apa dengan dina tua, bagaimana bisa ia menjadi tak kasat mata??? 'Ya tuhan? apa sebenarnyanya dia..' ia buru-buru menggelengkan kepalanya berusaha membersihkan pikirannya dari hal-hal yang tidak diharapkan, dan apa? kenapa dina tua meminta dirinya untuk menjauhi Deric. Apakah sebenarnya Deric itu homo? Tapi bagaimanapun, dina muda ialah pemilik jiwa muda, mau bagaimanapun rintangan yang menerjang, ia akan terus menyukai Deric, karna Deric adalah cinta pertamanya.

Next : Part O3 . .